Aswaja

BAB I
AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH

A. Ahlussunnah Wal Jama’ah Sebagai Firqah Dalam Islam
Ahlussunnah wal Jamaah terdiri dari tiga kata yaitu: Ahlun, As-Sunnah dan Al-Jama’ah. Kata ”Ahlun” berarti keluarga, golongan atau pengikut. Kata As Sunnah berarti sabda, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad SAW.. Sedangkan kata ”Al Jama’ah” berarti kumpulan atau kelompok para sahabat Nabi (Jama’atus Shababah), tabi’in dan tabi’it tabi’in.
Dari pengertian ketiga kata tersebut, maka yang dimaksud Ahlussunnah wal Jama’ah adalah: golongan atau orang-orang yang selalu setia mengikuti dan berpegang teguh pada sunnah Rasulullah SAW.. sebagaimana yang dipraktikkan para sahabat.
Sesudah masa sahabat, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah juga dipergunakan untuk membedakan dengan golongan Syi’ah. Artinya: Ahlussanah wal Jamaah adalah golongan yang selain Syi’ah. Dalam pengertian ini, semua golongan Islam seperti : Murji’ah, Khawarij, Mu’tazilah dan lain-lain adalah kelompok Ahlusunnah wal Jamaah.
Dalam perkembangan berikutnya, muncul istilah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai aliran, yaitu : ”aliran Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.
اِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَمَاعَةِ فَاْلُمرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَاْلمَا تُرِيْدِ يَّة

Ungkapan tersebut menjelaskan bahwa Ahlusunnah wal Jama’ah sebagai firqah dalam Islam adalah para pengikut imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al Maturidi karena kedua imam tersebut telah yang mengumpulkan dan merumuskan dengan rapi aqidah Islamiyah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.. Dalam hal ini, baik Imam Abul Hasan Al – Asy’ari maupun Imam Abu Mansur Al – Maturidi berusaha menggali aqidah Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist. Aqidah Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. kepada para sahabat dan diwariskan kepada tabi’in, tabai’it taba’i in dan para ulama salafus shalihin.
Sejak saat itu istilah Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi nama salah satu firqah (golongan) dalam Islam. Golongan itu dinamakan ”aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah”. Artinya: para pengikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al Maturidi.

B. Sejarah Kelahiran Ahlussunah Wal Jama’ah Sebagai Firqoh Dalam Islam
Sepeninggal Rasululloh SAW. agama Islam tersebar luas keluar jazirah arab. Bangsa-bangsa yang semula telah memiliki agama dan keyakinan tertentu kemudian masuk Islam, Diantara mereka terdapat kelompok yang berkeinginan memasukakn ajaran dan keyakinan mereka kedalam ajaran islam. Akibatnya, muncul aliran-aliran sesat yang mengancam kemurnian ajaran Islam
Semula aliran-aliran itu muncul karena perselisihan politik yang terjadi pada akhir pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib.
Pada akhir pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, muncul dua aliran (golongan ) yang saling berlawanan, yaitu: syi’ah dan khawarij. Golongan syi’ah mengagungkan sayidina Ali sedangkan khawarij sangat membencinya dan bahkan ada yang mengkafirkanya kemudian muncul golongan murji’ah yang mengambil jalan tengah dan tidak melibatkan diri dalam pertentangan politik.
Pada perkembangan selanjutnya, muncul beberapa aliran seperti jabariyah, qodariyah dan mu’tazilah. Dari ketiga golongan tersebut, mu’tazilah merupakan golongan yang paling berpengaruh karena didukung oleh khalifah Al Makmun dari dinasti Abbasiyah.
Khalifah Al Makmun menjadikan mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara, seluruh umat islam dipaksa untuk mengikutinya. Diantara ajaran yang dipaksakan oleh Al Makmun adalah: Bahwa al qur’an adalah mahluk.
Untuk memaksakan kehendaknya, Al Makmun melaksanakan uji aqidah yang dikenal dengan peristiwa ”Mihnah”. Banyak ulama’ yang menolak seruan Al Makmun sehingga mereka dimasukkan kedalam penjara. Diantaranya adalah: Imam Ahmad Bin Hanbal dan Muhammad Bin Nuh.
Dalam keadaan yang demikian, munculah seorang ulama’ besar bernama Abul Hasan Al ’Asyari. Semula beliau adalah pengikut Mu’tazilah. Karena beliau adalah murid Al Juba’i seorang tokoh Mu’tazilah. Akan tetapi setelah membandingkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dengan Nash-nash Al Qur’an dan al hadits. Imam Abul Hasan Al Asy’ari berkesimpulan bahwa ajaran-ajaran Mu’tazilah telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Oleh karena itu, beliau menyatakan diri keluar dari golongan Mu’tazilah dan merumuskan aqidah Islamiyah yang sesuai Al Qur’an dan Al Hadits serta ajaran yang dikembangkan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’in-tabi’in. Ajaran inilah yang disebut dengan ”Ahlussunah Wal Jama’ah.
Ajaran Imam Abul Hasan Al Asy’ari ditulis dalam buku-buku karya beliau antara lain: Al Luma’ fi ar-Raddi ’ala az-Zaighi wa al Bida’i (kecemerlangan tentang penolakan terhadap penganut penyimpangan dan Bid’ah), Al Ibanah ’an Ushul Al Diyanah (Urain tentang prinsip-prinsip Agama) dan Maqalat Al Islamiyyin (Makalah mengenai orang Islam).
Di Samarkand muncul tokoh Ahlussunnah Wal Jama’ah bernama: Imam Abu Manshur Al Maturidi. Ajaran yang dikembangkan ditulis dalam buku-buku karya beliau, seperti: At Tauhid, Ta’wilat Ahlissunnah, Bayan Wahmi Al Mu’tazilah, Ar Raddu Ala Al Qaramithah dan Ar Raddu Al Imamah li Ba’dlil Al Rafidl.
Ajaran yang dibangun oleh kedua tokoh Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dikembangkan oleh para ulama’ terkenal, seperti : Imam Al Baqillani, Imam Al Juwaini, Imam Al Ghazali dan Imam As Sanusi. Dengan demikian, ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dapat berkembang ke seluruh dunia Islam. Sampai sekarang ajaran ini diikuti oleh sebagian besar umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia.
Itulah sebabnya sehingga golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah di sebut sebagai ”Assaw.adul A’dham” yang artinya : golongan terbesar ummat Islam. Di sebut demikian, karena golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah terdiri dari para salafus shalihin dan para ulama’ pembela kebenaran (ahlul haq) dari berbagai macam bidang ilmu, baik ilmu aqidah, ilmu fiqih maupun ilmu akhlak/tasawwuf.

C. Pokok – Pokok Ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah
1. Bidang Aqidah
Dalam bidang Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah mengikuti madzhab yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Abu Manshur Al Maturidi. Karena antara kedua imam tersebut memiliki persamaan, yakni ”mendahulukan nash dari pada akal” (taqdiimun nash ’alal aqli). Atau mendahulukan dalil naqli dari dalil aqli.
Adapun pokok-pokok ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di bidang aqidah meliputi: bahasan tentang Ketuhanan, Malaikat-malaikat, kitab-kitab suci, para Rasul, Hari akhirat dan Qadla’ Qadar Allah.
Secara rinci rumusan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang membedakannya dengan firqah lain diantaranya adalah :
1. Allah SWT. memiliki sifat-sifat keindahan (Al Jamal), sifat-sifat kebesaran (Al Jalal) dan sifat-sifat Kesempurnaan (Al Kamal). Sifat-sifat tersebut berbeda dengan sifat-sifat yang ada makhluk.
2. Sifat-sifat Allah terdiri dari sifat wajib jumlahnya 20, sifat mustahil jumlahnya 20, dan sifat jaiz ada 1 (satu)
3. Allah SWT. Maha Esa baik dalam dzatNya, sifatNya maupun perbuatanNya
4. Allah SWT. dapat dilihat kelak di surga
5. Percaya bahwa ada makhluk halus yang diciptakan oleh Allah dari cahaya (nur) yang bernama Malaikat. Mengenai bentuknya hanya Allah yang mengetahuinya.
6. Jumlah malaikat hanya Allah yang mengetahuinya dan di antaranya ada yang disebut ”Malaikat Kiraman Katibin”.
7. Al Qur’an adalah Kalam Allah yang qadim dan merupakan kitab suci terakhir dan paling sempurna.
8. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada umat manusia. Para Nabi dan Rasul adalah manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah.
9. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan ajarannya kepada umat manusia. Para Nabi dan Rasul adalah manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah.
10. Para Nabi dan Rasul yang wajib diketahui namanya ada 25 orang dan Nabi Muhammad SAW. adalah Nabi dan Rasul Allah yang terakhir (Khatamul Ambiya’ wal Mursalin)
11. Para Nabi dan Rasul itu memiliki mu’jizat sebagai hujjah atas kebenaran risalah yang dibawanya. Nabi Muhammad SAW. memiliki mu’jizat selain Al Qur’an, seperti air yang keluar dari jemari beliau dan lain-lain.
12. Nabi Muhammad SAW. adalah makhluk Allah yang paling mulia dan akan memberi syafaat kepada orang-orang beriman kelak di akhirat.
13. Hari kiamat atau hari akhir pasti terjadi. Hari kiamat juga disebut hari hisab. Artinya, pada hari itu segala perbuatan manusia akan dihisab oleh Allah SWT.
14. Di hari kiamat amal manusia akan ditimbang dan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh akan dimasukkan ke dalam surga. Sedangkan orang-orang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka. Kehidupan di surga dan neraka itu bersifat kekal dan abadi.
15. Beriman kepada perkara yang gaib, seperti adzb kubur, nikmat kubur, mahsyar, mizan, shirath, lauh mahfudz, arasy dan lain-lain.
16. Semua yang terjadi di dunia ini sudah ditetapkan oleh qadla dan qadar Allah. Setiap orang tidak bisa melepaskan diri dari qadla dan qadar Allah.
17. Rejeki, jodoh, ajal semuanya telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali.
18. Perbuatan manusia juga telah ditakdirkan oleh Allah, tetapi manusia diwajibkan beriktiyar untuk memilih perbuatan yang baik.
19. Orang beriman yang berdosa dan meninggal dunia dalam kedaan belum bertobat, nasibnya di akhirat terserah kepada Allah. Mungkin ia akan memperoleh rahmat dari Allah dan syafaat dari Rasulullah SAW. Mungkin juga ia disiksa, akan tetapi tidak bersifat kekal.
20. Anak-anak orang kafir jika meninggal dunia sebelum usia baligh dimasukkan ke dalam surga.

2. Bidang Ibadah
Menurut Ahlusunnah wal Jamaah dasar yang menjadi sumber hukum Islam (syariah Islam) itu ada empat, yaitu: Al Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW., Ijma’ dan Qiyas.
Para mujtahid yang sudah diakui kebenarannya. Mereka adalah: Imam Abu Hanifah An Nu’man (madzhab Hanafi), Imam Malik bin Anas (madzhab Maliki), Imam Muhammad bin Idris As Syafii (madzhab Syafii) dan Imam Ahmad bin Hanbal (madzhab Hanbali).
Sebenarnya masih banyak mujtahid yang membangun madzhab di bidang syariah atau fiqih. Tetapi yang diikuti hanya empat mujtahid tersebut diatas, karena hasil ijtihad mereka telah teruji kebenarannya. Disamping itu, madzhab mereka telah diikuti oleh sebagian besar umat Islam sampai sekarang.
Adapun cara untuk mengetahui hasil ijtihad mereka adalah dengan mempelajari kitab-kitab fiqih yang telah disusun oleh para imam madzhab empat dan para pengikut madzhab Syafi’i, terutama dalam masalah ubudiyah. Di antara contohnya dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Membaca basmalah pada waktu membaca surat Al Fatihah. Demikian juga ketika memulai membaca surat atau ayat Al Qur’an, kecuali surat at-taubah, hukumnya sunnah.
2. Menyentuh dan membawa Al Qur’an harus dalam keadaan suci dari hadast kecil dan hadast besar.
3. Membaca do’a qunut pada shalat subuh
4. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadlan dengan menggunakan rukyatul hilal (melihat bulan), tidak semata-mata menggunakan hasil hisab (hitungan, perkiraan)
5. Pada malam bulan Ramadlan melakukan shalat Tarawih yang jumlah raka’atnya 20 raka’at di teruskan dengan 3 raka’at shalat witir.
6. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha lebih utama dikerjakan di masjid. Apabila semua masjid sudah tidak mampu menampung jamaah, maka boleh dikerjakan di lapangan.
7. Mengumandangkan adzan dua kali ketika melaksanakan shalat jum’at.
8. Mengerjakan sholat sunnah qabiliyyah dan ba’diyyah hukumnya sunnah.
9. Shalat fardu yang tertinggal atau lupa tidak dikerjakan wajib di qadla.
10. Setiap memulai mengerjakan shalat disunnahkan membaca ”ushalli”
11. Berdoa dengan mengangkat kedua tangan hukumnya sunnah.
12. Berdoa dengan bertawassul diperbolehkan
13. Menyentuh wanita yang bukan mahram membatalkan wudlu.
3. Bidang Akhlak / Tasawuf
Akhlak termasuk bagian terpenting dalam ajaran Islam. Karena dengan Akhlak, kehidupan manusia dapat berlangsung dengan baik sesuai ketentuan agama Islam. Begitu pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia, sehingga Rasulullah bersabda :
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ

Rasulullah SAW. adalah teladan (uswah) dan panutan (qudwah) yang sempurna (hasanah). Beliau bukan hanya mengajarkan akhlak yang mulia, tetapi mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak Nabi diteladani oleh para sahabat dan diajarkannya kepada para tabi’in dan tabi’it tabi’in. Merekalah yang menjadi sumber keteladanan akhlak bagi golongan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Para ulama salafus shalihin telah merumuskan ajaran akhlak dalam kitab-kitab mereka. Disamping itu, mereka juga merumuskan ajaran tentang tasawuf. Namun golongan Ahlussunnah wal Jama’ah memilih mengikuti ajaran yang dirumuskan oleh Imam Junaidi Al Baghdadi, Imam Al Ghazali dan para ulama’ tasawuf lainnya yang memiliki persamaan ajaran dengan keduanya.karena tasawuf yang diajarkan para ulama tersebut dianggap mu’tabar, yakni diakui kebenarannya. Dikatakan mu’tabar karena tasawuf yang diajarkan mereka tidak menyimpang dari dasar-dasar syari’ah.

Diantara pokok-pokok ajaran akhlak/tasawuf adalah:
1. Selalu bertaubat, artinya: menyadari kesalahan dan dosa serta bertekad tidak mengulangi perbuatan maksiat
2. Besikap zuhud terhadap dunia, artinya: tidak terpaut dengan kehidupan duniawi, sekalipun memiliki harta yang banyak
3. Bersikap wara’, artinya: menahan atau mengendalikan diri dari segala yang tidak jelas halal haramnya (syubhat).
4. Bersikap tawadlu’, artinya: berlaku sopan terhadap sesama manusia, apalagi terhadap Allah SWT.
5. Menjauhi sikap-sikap yang menjadi sumber segala dosa, seperti: sombong (al kibr), serakah (al hirsh) dan iri hati (al hasad)
6. Menjauhi perkataan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, seperti: kebohongan (al kidzb), fitnah, pembicaraan dengan maksud jahat (al ghibah) dann adu domba (an namimah).
7. Al Muraqabah, artinya: menyadari bahwa hidup ini selalu dalam pemantauan dan pengawasan Allah SWT., kapan saja dan dimana saja, baik perbuatan lahir maupun perbuatan batin.
8. Memperbanyak dzikir atau mengingat Allah, baik secara sendiri-sendiri maupun berjama’ah.
9. Istiqamah dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

BAB II
NAHDLATUL ULAMA ( NU )

A. Proses Masuknya Islam Di Indonesia
Agama islam masuk ke Indonesia sejak abad pertama hijriyah atau abad 7 masehi, pada abad ke-9 masehi daulah abasyiyah mengirim mubaligh ke wilayah sumatera utara. Mubaligh itu terdiri dari para ulama bermadzhab syafi’i. Sejak saat itu paham Ahlussunnah wal Jama’ah mulai diajarkan dan dikembangkan di Indonesia. Dengan demikian tidak ada paham lain yang dianut dan diamalkan oleh umat islam Indonesia selain paham Ahlussunah wal Jama’ah.
Paham Ahlussunah wal Jama’ah yang diajarkan di Indonesia meliputi ajaran tentang aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Sedangkan amaliyah keagamaan, seperti shalat jum’at dengan adzan dua kali, shalat tarawih 20 rakaat, shalat ‘Id di masjid dan kebiasaan-kebiasaan (tradisi) keagamaan yang berkembang sampai sekarang seperti ziarah kubur, khatmil qur’an, diba’an, manaqiban dan lain-lain semuanya dilakukan dengan berpedoman pada tata cara yang diajarkan oleh para ulama Ahlussunah wal Jama’ah.
Pondok pesantren sebagai lembaga pengajaran islam
Belajar di pondok pesantren tidak hanya sekedar untuk memperoleh ilmu pengetahuan agama, tetapi juga menghiasi diri dengan akhlakul karimah. Para santri dididik dan dilatih untuk bersikap jujur, hidup sederhana dan berhati bersih.
Pondok pesantren memiliki lima unsur utama yaitu:
1. Kyai yang mengajar dan mendidik
2. Santri yang belajar pada kyai
3. Masjid atau mushala sebagai tempat shalat berjamah dan tempat belajar
4. Pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.
5. Pengajaran kitab-kitab agama islam karangan ulama Ahlussunah wal Jama’ah yang biasa disebut dengan kitab kuning.
Di dalam pondok pesantren hubungan antara kyai dan santri terjalin sangat akrab bagaikan satu keluarga. Para santri menganggap kyai adalah orang tuanya sendiri sedangkan para kyai menganggap santri sebagai anaknya sendiri.
Hubungan tersebut biasanya berlangsung selamanya dan tidak pernah putus walaupun para santri sudah meninggalkan pondok pesantren. Selama hidupnya santri tidak pernah lupa hormat serta patuh kyainya dan tidak pernah melupakan pondok pesantren tempat belajarnya.
Pondok pesantren memiliki peranan yang yang sangat besar dalam mengajarkan nilai-nilai ajaran islam ahlussunah wal jamaah.

B. Asal Usul Pesantren
a. Pengertian Pondok Pesantren
Pondok pesantren terdiri dari dua kata yaitu ”pondok” dan ”pesantren”. Kata “pondok” berasal dari bahasa Arab “fuduq” yang berarti tempat tidur, asrama atau hotel. Sedangkan kata “pesantren” berasal dari kata dasar “santri” yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pesantrian”. Orang jawa mengucapkannya “pesantren” yang berarti “tempat tinggal santri”.
Dalam ilmu pendidikan Islam, pondok pesantren di definisikan sebagai lembaga pendidikan untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pendoman perilaku sehari-hari. Pondok pesantren merupakan sebuah komplek pendidikan yang memiliki lima unsur (elemen) pokok, yaitu :

a. Kyai
Kyai merupakan cikal bakal dan unsur paling pondok dari sebuah pondok pesantren. Ia mempunyai peranan yang sangat penting dan menentukan. Selain sebagai guru (muallim) yang mengajarkan ilmu agama Islam, kyai merupakan pemimpin yang menentukan arah, bentuk, dan corak pendidikan di pesantrennya. Itulah sebabnya pertumbuhan, perkembangan dan keberlangsungan hidup suatu pondok pesantren sangat tergantung kepada kemampuan pribadi kyai dalam mengelolanya.

b. Santri
Santri adalah para pelajar di pondok pesantren guna menyerahkan diri kepada kyai. Dalam tradisi pesantren santri dibedakan menjadi dua macam, yaitu: santri mukim yang menetap di pondok pesantren dan santri kalong yang pulang ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti pelajaran.
Para santri mukim hidup mandiri dan sederhana. Mereka mengurus keperluannya sendiri, berpenampilan sederhana, hormat kepada kyai dan selalu riyadlah melaksanakan amaliyah sunnah seperti puasa sunnah (Senin dan Kamis), dan shalat malam. Pola hidup para santri diliputi suasana keagamaan, keiklasan dan kedisipinan dibawah pengawasan kyai dan para ustadz (guru).

c. Pondok (Asrama)
Asrama memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai tempat tinggal para santri, tempat belajar dan tempat latihan hidup mandiri. Gabungan dari ketiga fungsi ini menunjukkan sifat dasar pondok pesantren yang menekankan pendidikan agama dan kehidupan bersama dalam satu komplek belajar yang berdampingan secara berimbang.

d. Masjid
Masjid merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan merupakan tempat paling tepat untuk mendidik santri. Selain berfungsi sebagai tempat praktik shalat lima waktu, khutbah dan shalat Jum’at, masjid juga berfungsi sebagai tempat pembelajaran kitab. Biasanya penetapan waktu belajar dikaitkan dengan waktu menunaikan shalat fardlu baik sebelum atau sesudahnya. Misalnya: Pengajian ba’dal Ashar, ba’dal Magrib, dan ba’dal Shubuh.

e. Kitab Salaf
Pengajian kitab salaf (kitab kuning) merupakan unsur pokok pondok pesantren. Dimulai dari kitab-kitab tingkat dasar (elementer) yang berisi teks ringkas dan sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab tingkat menengah dan kitab-kitab besar.
Dilihat dari segi ilmu yang dipelajari, kitab-kitab salaf yang diajarkan di pondok pesantren meliputi: akidah, fiqih, akhlak/ tasawuf, usul fiqih, tafsir, hadits, nahwu sharaf, dan tarikh (sejarah).
Selain lima elemen dasar tersebut, pondok pesantren memiliki “panca jiwa” yang menjadi ciri khas dan tata nilai yang di praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
1) Jiwa keiklasan
2) Jiwa kesederhanaan tapi agung
3) Jiwa persaudaraan
4) Jiwa Kemandirian
5) Jiwa kebebasan atau kemerdekaan.

C. Kelahiran Nahdlatul Ulama
Nahdlotul ulama’ didirikan di surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 Masehi. Pendirinya adalah para ulama’ pengasuh pondok pesantren.
Sejak semula para ulama’ pondok pesantren telah memiliki persamaan dalam paham keagamaannya, yaitu Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Diantara mereka juga sudah terjalin hubungan kerjasama, terutama dalam pembangunan dan pengembangan pondok pesantren. Bahkan sebagian besar diantara mereka memiliki hubungan kekerabatan dan kekeluargaan.
Berbagai bentuk kesamaan tersebut, kemudian dituangkan dalam satu jam’iyah (organisasi) sebagai wadah perjuangan bersama untuk mewujudkan cita cita “izzul Islam wal Muslimin (kejayaan Islam dan umatnya)”
Di antara para ulama’ pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama’ adalah :
1. KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Tebu ireng Jombang)
2. KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya)
3. KH. Bisri Syansuri (Denanyar Jombang)
4. KH. Raden Asnawi (Kudus)
5. KH. Maksum (Lasem)
6. KH. Ridlwan (Semarang)
7. KH. Nawawi (Pasuruan)
8. KH. Nahrowi (Malang)
9. KH. Ridlwan (Surabaya)
10. KH. Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
11. KH. Abullah Ubaid (Surabaya)
12. KH. Abdul Halim (Cirebon)
13. KH. Ndoro Munthaha (Bangkalan, Madura)
14. KH. Dahlan (Kertosono)
15. KH. Abdullah Faqih (Maskumambang, Dukun, Gresik)

Sebab sebab para ulama’ pondok pesantren mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama’, antara lain:

1. Penjajahan Belanda
Penjajah Belanda menjalankan siasat licik dengan mengadu domba antara sesama bangsa Indonesia, terutama antara sesama umat Islam. Mereka yakin bahwa kekuatan umat Islam akan dapat dilumpuhkan apabila diantara mereka terjadi perpecahan.
Menghadapi siasat licik penjajah Belanda tersebut, para ulama’ sepakat menjadikan pondok pesantren sebagai benteng pertahanan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dan keluhuran budi pekerti umatnya. Dengan demikian, umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya tidak mudah terpengaruh oleh kebudayaan Barat, serta mampu mempertahankan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.

2. Berkembangnya Paham Wahabi
Pada awal abad ke 19 M, di Indonesia telah berkembang paham Wahabi yang dibawa oleh Haji Miskin dan kawan-kawan dari Minangkabau, Sumatera Barat. Paham tersebut sangat bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang sudah mengakar di Indonesia. Paham Wahabi itu semakin berkembang setelah memperoleh dukungan dari kaum pembaru (modernis) Islam.
Pada tahun 1925, di wilayah Hijaz telah berdiri kerajaan Arab Saudi yang dipimpin oleh Raja Ibnu Saud. Kerajaan tersebut menganut paham Wahabi.
Untuk memantapkan kekuasaannya, Raja Ibnu Saud berencana mengadakan Muktamar Khilafah di Makkah. Seluruh dunia Islam diundang untuk mengirim utusannya dalam muktamar tersebut. Tujuannya agar mereka mendukung pemerintahannya dan mengakuinya sebagai Khalifah umat Islam sedunia.
Umat Islam Indonesia yang juga mendapat undangan mengikuti muktamar, segera membentuk utusan yang diberi nama Komite Khilafat. Semula disepakati bahwa utusan terdiri dari tokoh-tokoh organisasi Islam dan unsur ulama’ pondok pesantren. Akan tetapi, unsur ulama’ pondok pesantren kemudian dicoret dan tidak diikut sertakan sebagai utusan.
Yang dilakukan mereka adalah:
1. Membentuk “Komite Hijaz” untuk menghadap Raja Ibnu Saud
2. Menunjuk KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai utusan resmi
3. Menunjuk Syekh Ghanaim Al Mishri dan Kyai Dahlan (Kertosono) yang saat itu sedang belajar di Hijaz sebagai pendamping
4. Mendirikan jam’iyah (organisasi) yang diberi nama “Nahdlatul Ulama”)

D. Pengertian Kepribadian Nahdlotul Ulama’
Kepribadian Nahdlotul Ulama’ adalah pedoman berprilaku bagi warga Nahdlotul Ulama’ yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pedoman tersebut telah dirumuskan menjadi ”Khitthah Nahdliyah”
Ibarat sebuah bangunan, Khitthah Nahdliyah merupakan pondasi yang menjadi dasar bagi kepribadian warga Nahdlotul Ulama’. Dari pondasi tersebut diharapkan dapat terbentuk umat terbaik (khaira ummah) di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Artinya dengan berpedoman pada Khitthah Nahdliyah, warga NU dapat menjadi pelopor pembentukan tatanan umat yang baik, unggul dan berkualitas.
Sebagai perwujudan dari cita-cita luhur tersebut, NU telah merumuskan beberapa sikap yang harus dimiliki oleh setiap warganya. Rumusan mengenai sikap-sikap tersebut kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar yang disebut ”Mabadi Khaira Ummah”.
Hubungan antara Khitthah Nahdliyah dan Mabadi Khaira Ummah terletak pada keterkaitan yang saling mendukung dan melengkapi. Khitthah Nahdliyah menjadi landasan sedangkan Mabadi Khaira Ummah sebagai pelaksananya. Keduanya menjadi pedoman perilaku yang membentuk kepribadian NU.
Mabadi Khaira Ummah adalah pedoman dasar yang mengandung nilai-nilai utama sebagai langkah awal pembentukan umat yang terbaik, yakni suatu umat yang mampu melaksanakan tugas-tugas amar ma’ruf nahi munkar. Dalam NU istilah tersebut dijadikan sebagai sebuah gerakan serentak, sehingga di kenal sebutan ”Gerakan Mabadi Khaira Ummah”. Gerakan ini pertama kali dilakukan oleh NU pada tahun 1935.
Sebagai pedoman dasar pembentukan umat yang terbaik, pada mulanya Mabadi Khaira Ummah memuat tiga butir nilai utama, yaitu : As Shidqu, Al Amanah wal Wafa bil ’Ahdi, dan At Ta’awun.
Untuk menjawab tuntutan zaman dan berbagai macam perubahan, maka diperlukan penambahan butir-butir baru sebagai pelengkap. Butir-butir tambahan tersebut adalah Al ’Adalah dan Al Istiqamah. Tambahan tersebut ditetapkan dalam Munas Alim Ulama’ di Bandar Lampung (21–25 Januari 1992).
Dengan demikian, Mabadi Khaira Ummah saat ini terdiri dari lima butir nilai terpuji yang di sebut ”Al Mabadiul Khamsah”, yaitu: As Shidqu, Al Amanah wal Wafa bil ’Ahdi, At Ta’awun, Al ’Adalah dan Al Istiqamah. Kelima prinsip ini merupakan jati diri, ciri khas dan kepribadian Nahdlotul Ulama’.

1) As Shidqu
Kata ”As Shidqu” (الصِّدْقُ) mengandung arti kejujuran, kesungguhan dan keterbukaan. Kejujuran adalah menyatunya ucapan dengan perbuatan dan pikiran. Orang yang jujur selalu benar dalam semua perkataan dan tindakannya.
Kejujuran menjadi sifat utama yang harus dimiliki semua warga NU. Karena itu, kita harus selalu jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Kita tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dan kesalahan diri sendiri. Demikian juga tidak perlu menutupi kebaikan orang lain lantaran tidak sesuai dengan keinginan kita.
Termasuk dalam pengertian As Shidqu adalah jujur dalam bertukar pikiran, dalam persahabatan dan dalam melaksanakan tugas. Seorang murid harus mempunyai sifat jujur kalau ia ingin mendalami suatu ilmu. Seorang pedagang juga harus mempunyai sifat jujur kalau ingin mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Begitu juga dalam kegiatan-kegiatan lainnya.
Orang yang jujur selalu berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan berbagai tugas dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah SWT. atau dengan sesama manusia. Apa yang dikehendaki dalam hati, yang dipikirkan, yang dikatakan dan yang dijalankan selalu sama dan tidak ada perbedaan. Menyatunya hati, pikiran, ucapan dan tindakan merupakan ciri utama kejujuran.
Dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 119, Allah SWT berfirman :
        
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang jujur”.
Karena itu, sifat jujur harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kamu berkata apa saja, berkatalah dengan jujur dan benar. Jika kamu melakukan suatu perbuatan, lakukan dengan jujur dan benar. Jangan mencoba untuk tidak jujur, karena hal itu akan merugikan diri sendiri. sebab dengan berbuat atau berkata tidak jujur, kita akan kesulitan untuk menutupinya. Sekali saja kita mencoba tidak jujur, pada saat itu pula kita sudah kehilangan kepercayaan dan dijauhi orang lain.

2) Al Amanah Wal Wafa Bil ‘Ahdi
Pada pembahsan ini ada dua istilah yang saling terkait, yaitu : sikap ”Al Amanah” (اْلأَمَانَةْ) dan Al Wafa bil ‘Ahdi (بِاْلعَهْدِ اْلوَفَاءُ). Kedua istilah ini dipadukan untuk memperoleh satu kesatuan pengertian yang meliputi: dapat dipercaya, setia dan menepati janji.
Sebagai pejabat harus menepati janji kepada rakyatnya. Sebagai anggota masyarakat harus selalu menepati janji kepada sesama anggota masyarakat. Demikian juga antar sesama anggota keluarga dan antar teman sejawat. Jika kamu mengikat janji, tepatilah, karena menyalahi janji termasuk sifat orang munafiq.
Orang yang dapat dipercaya, selalu melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa pamprih. Ia melaksanakan dengan penuh pengabdian, tanpa harus diawasi oleh siapapun. Ia menyadari bahwa yang mengawasi dirinya adalah Allah SWT.
Dalam Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 58, Allah SWT berfirman
•           ••     •      •     
Artinya: ”Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kamu sekalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…….”
Oleh sebab itu, dapat dipercaya dan menepati janji harus dijadikan sebagai kepribadian. Kita harus bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semula mungkin harus dipaksakan terlebih dahulu, tetapi lama kelamaan menjadi kebiasaan. Kalau kita sudah berhasil membiasakan diri dengan sifat amanah, maka semua orang akan memberikan penghargaan kepada kita. Sebaliknya kalau kita tidak membiasakan diri untuk dapat dipercaya, maka semua orang akan pergi menjauhi kita.

3) Al ’Adalah
Sikap ketiga yang menjadi kepribadian NU adalah: ”Al ’Adalah” (اْلعَدَالَةْ) artinya adil, tidak memihak dan taat asas. Sikap ini mengharuskan orang berpegang kepada kebenaran dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Wujud dari sifat adil adalah taat pada aturan dan membuat keputusan sesuai dengan kedudukannya.
Dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 90, Allah SWT berfirman:
•                 
Artinya: Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kamu sekalian untuk berbuat adil dan berbuat baik.
Sebagai warga NU harus senantiasa menerapkan sikap adil dengan membiasakan diri untuk melakukannya kepada siapapun. Sikap berat sebelah harus kita hindari, sehingga tidak timbul iri hati. Sebab bermula dari sikap tidak adil, maka hasud, dengki, iri hati dan permusuhan akan terjadi. Oleh sebab itu, berbuat adil harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

4) At Ta’awun
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pejabat dan ada yang menjadi rakyat. Ada yang pandai dan ada yang kurang pandai. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Perbedaan-perbedaan itu bukan untuk saling membanggakan diri, tetapi agar saling tolong menolong dan saling membantu antar sesama manusia untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Masyarakat NU berpedapat bahwa saling tolong menolong itu merupakan sendi utama dalam kehidupan bermasyarakat. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan pihak lain. Sikap tolong menolong itu disebut ”At Ta’awun”.
”At ta’awun” artinya tolong menolong, setia kawan dan gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. ”At Ta’awun” juga mengandung pengertian timbal balik dari masing-masing pihak untuk memberi dan menerima. Karena itu, sikap At Ta’awun mendorong setiap orang untuk gemar berusaha agar dapat memiliki sesuatu yang dapat disumbangkan kepada orang lain dan kepada kepentingan bersama.
Dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman :
                             •                      •   •    
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Berdasarkan perintah dalam ayat tersebut, setiap warga NU harus mampu menanamkan sikap At Ta’awun dalam diri masing-masing dan memiliki sikap saling membantu untuk mewujudkan kebersamaan. Tentu dalam pelaksanaannya ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Rambu-rambu itu adalah “kebaikan dan taqwa”. Karena itu, warga NU dilarang tolong menolong dalam perbuatan dosa, kema’siatan, kemungkaran dan pelanggaran aturan.
Warga NU harus selalu tolong menolong, terutama kepada kerabat, teman, tetangga dan warga yang sangat membutuhkan atau mengalami kesulitan. Orang yang memiliki sikap At Ta’awun akan memiliki banyak teman. Dan apabila mengalami kesulitan, tentu akan banyak yang menolong.

5) Al Istiqamah
Sebagai warga NU yang setia kepada ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah harus selalu patuh dan tidak bergeser sedikitpun dari jalur yang benar sesuai ajaran Islam. Sikap kepatuhan ini disebut “Al Istiqamah” (اْلإِسْتِقَامَةُ).
“Al Istiqamah” artinya tegar, berkesinambungan dan berkelanjutan. Tegar maksudnya tetap dan tidak bergeser dari aturan Allah SWT. dan Rasul-Nya, tuntunan Salafus Shalih dan ketentuan-ketentuan serta ketetapan-ketetapan yang disepakati bersama.
Kesinambungan maksudnya keterkaitan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain dan antara satu masa dengan masa yang lain, sehingga kesemuanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling menopang.
Sedangkan berkelanjutan maksudnya melaksanakan semua kegiatan secara terus menerus tanpa mengalami stagnasi dan merupakan suatu proses kemajuan yang tidak hanya berjalan di tempat.
Dalam Al Qur’an surat Fushshilat ayat 30, Allah SWT berfirman :
•       •        •    
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Allah SWT, kemudian mereka mengukuhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan jangan pula merasa sedih.dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan allah SWT kepadamu.
Membiasakan diri dengan kepribadian Al Istiqamah akan membuat kepuasan, terutama bagi diri sendiri. Jika kita selalu bersikap istiqamah, maka semua perbuatan yang kita lakukan akan memperoleh hasil yang sempurna dan akan memperoleh kemuliaan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :
اْلإسْتقَامَةُ خَيْرٌ منْ أَلْف كَرَامَةٍ
Artinya: “Istiqamah itu lebih baik dari pada seribu kemuliaan”.

Demikianlah lima kepribadian yang harus dimiliki oleh semua warga NU. Kelima kepribadian tersebut harus ditanamkan sejak dini dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menerapkan kelima sikap tersebut kita akan menjadi orang yang shalih dan mushlih (dapat memperbaiki kehidupan masyarakat. Inilah yang menjadi cita-cita luhur NU, yaitu membangun “khaira Ummah”, (umat yang baik dan berkualitas lahir maupun batin).
Di samping itu dengan menerapkan kelima sikap utama tersebut, maka kehidupan masyarakat akan menjadi tenteram dan harmonis, persaudaraan semakin terjalin dan setiap orang akan mempunyai harga diri sesuai dengan fitrahnya masing-masing.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s