Tafsir Tarbawi

TARBIYAH DAN TA’LIM DALAM AL QUR’AN

  1. Pendahuluan

Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradapan suatu bangsa oleh sebab itu hampir semua negara menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan. Begitu juga dengan Indonesia juga menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dengan mengalokasikan anggaran 20% dari anggaran pendapatan dan belanja Negara untuk sektor ini.

Pendidikan merupakan kegiatan manusia yang paling utama yang meliputi seluruh tingkah laku manusia yang dilakukan demi memperoleh kesinambungan, pertahanan dan peningkatan mutu hidup baik secara jasmani maupun rohani.[1]

Tujuan dari pendidikan bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui tetapi mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadlilah (keutamaan), membiasakan, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci.[2] Senada dengan pernyataan tersebut tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.[3]

Kondisi bangsa yang sedang dilanda krisis dalam berbagai aspek kehidupan dengan melihat kondisi riil yang ada seperti merebaknya korupsi, penggunaan narkoba, pergaulan bebas dan berbagai masalah yang menyelimuti generasi penerus bangsa dan masyarakat pada umumnya membuat peran pendidikan kembali dipertanyakan[4]

Guru sebagai salah satu komponen dalam system pendidikan memiliki posisi yang sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan,[5] karena tugas utama guru adalah merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.serta melakukan bimbingan dan pelatihan.[6]

Pemahaman guru tentang konsep dasar pendidikan merupakan sesuatu yang mutlak dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan. Dalam dunia pendidikan istilah tarbiyah dan ta’lim sudah tidak asing lagi. Dari istilah inilah muncul konsep tentang pengertian pendidikan dalam perspektif islam

Al-Quran sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dilihat pada Al-Quran surat an-Nahl ayat 64 dan surat Shad ayat 29. Di sana terungkap bahwa pada hakikatnya Al-Quran itu merupakan khazanah yang penting untuk kehidupan dan kebudayaan manusia terutama bidang kerohanian. Al-Quran merupakan pedoman pendidikan kemasyarakatan, moral dan spiritual (kerohanian).

Akhirnya untuk memahami konsep pendidikan maka perlu kiranya tentang tarbiyah dan ta’lim dalam al-quran.

  1. Pembahasan
  2. Pengertian Tarbiyah

Pengertian tarbiyah yang akan kita bahas pada pembahasan ini hanya yang terdapat dalam al Qur’an surat al-Faihah ayat 2, surat al-Isra’ ayat 24, surat ar-Rum ayat 39 dan surat asy Syuara ayat 16.

Dalam mu’jam al-Lughah al-Arabiyah al-Mu’ashirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), karangan Hans Wehr, kata al-tarbiyah diartikan sebagai: education (pendidikan), upbringing (pengembangan), teaching (pengajaran), instruction (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising (of animals) (menumbuhkan).[7] Kata tarbiyah berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban ( yang berarti mengasuh, memimpin, mangasuh (anak).[8] Penjelasan atas kata al-tarbiyah ini lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut.

Pertama, tarbiyah berasal dari kata رَبَا- يَرْبُوْ – رِبَاءً yang memiliki makna bertambah (zad) dan tumbuh.  Pengertian ini misalnya terdapat dalam surat ar-Rum (30) ayat 39:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah

Berdasarkan pada ayat tersebut, makna al-tarbiyah dapat berarti menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, social, maupun spiritual.

Kedua, رَبَّ – يَرُبِّ – رَبّا  yang memiliki makna mengasuh, memimpin. Dengan mengacu pada kata yang kedua ini, maka tarbiyah berarti usaha mengasuh, memelihara dan mendewasakan peserta didik baik secara fisik, social maupun spiritual.

Ketiga, رَبَتَ – يَرْبِتُ – رَبْتًا yang mengandung arti mendidik, dan dalam mendidik meliputi memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Dengan menggunakan kata yang ketiga ini, maka tarbiyah berarti usaha memelihara, mangasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam kehidupannya.

Dari beberapa pegertian yang telah dikemukakan serta dibandingkan atau diintegrasikan antara satu dan lainnya, terlihat bahwa kata tersebut saling menunjang dan saling melengkapi. Selanjutnya seluruh kata-kata tersebut diintegrasikan maka akan diperoleh pengertian, bahwa al-tarbiyah berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi (fisik, intelektual, social, estetika, dan spiritual) yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal, melalui cara memelihara, mengasuh merawat, memperbaiki dan mengaturnya secara terencana, sistematis dan berkelanjutan. Dengan demikian, pada kata al-tarbiyah tersebut mengandung cakupan tujuan pendidikan, ialah menumbuhkan dan mengembagkan potensi; dan proses pendidikan berupa memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengaturnya.

Penjelasan lebih lanjut tentang kata al-tarbiyah dan penggunaannya dapat dijumpai dalam al-quran sebagai berikut.

Didalam al-quran, kata al-tarbiyah dapat dikemukakan sebagai berikut :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-Fatihah (1): 2)

Kata rabb yang terdapat dalam ayat tersebut dalam al-quran dan terjemahnya terbitan Departemen Agama diartikan sebagai berikut: Rabb (Tuhan) berarti tuhan yang ditaati yang memiliki, mendidik dan memelihara. Kata itu tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabb al-bait (tuan rumah).[9] Selanjutnya al-Raghib al-ashafaniy ketika menafsirkan ayat 2 surah al-fatihah yang mengandung kata rabb sebagai berikut:

(رب) هُوَ السَيِّد المُرَّبِّى الّذي يَسُوسُ مَنْ يُرَبِّيهِ ويُدَبّرُ شُئونَهُ.

وتربيةُ الله للناس نَوْعَان، تربية خَلْقِيَة تَكُوْنُ بِتَنْمِيَةِ أَجْسَامِهِمْ حَتَّى تَبْلُغَ الأَشَد وَتَنْمِيَةُ قَوَاهُم النَفْسِيَة وَالعَقْلِيَة- وتربية دينية تهذيبية تكون بما يوحيه إلى أفراد منهم ليبلّغوا للناس ما به تكمل عقولهم وتصفو نفوسهم- وليس لغيره أن يشرع للناس عبادة ولا أن يحلّ شيئا ويحرم آخر إلا بإذن منه.

Artinya: rabb adalah tuhan yang mendidik yang memperkuat orang yang dididik dan mengatur keadaan manusia terbagi dua, yaitu pendidikan fisik yang dilakukan dengan cara mengembangkan jasmaninya sehngga mencapai keadaan yang kukuh, dan mengembangkan keadaan jiwa dan akalnya dan pendidikan keagamaan dan budi pekerti yang dilakukan dengan cara menyampaikan ajaran agama kepada setiap orang sehingga sempurna akalnya dan bersih jiwanya, dan tidak boleh kepada siapa pun menyuruh manusia untuk menyembah selain Allah, tidak menghalalkan sesuatu yang haram, dan tidak pula yang mengharamkan yang halah kecuali atas izin-Nya[10].

Selanjutnya kata al-tarbiyah dijumpai pada surat al-isra’ (17) ayat 24:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Kata rabbaniy pada ayat tersebut dengan jelas diartikan pendidikan, yaitu pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua kepada anaknya. Karena demikian besar arti pendidikan yang diberikan kedua orang tua, maka seorang anak harus menunjukkan sikap hormat dan terima kasih, dengan cara bersikap tawadlu (rendah hati) dan mendo’akan kebaikan bagi keduanya. Sikap anak yang mendoakan kedua orang tua tersebut selanjutnya disebut dengan anak saleh, sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang berbunyi:

“jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak saleh yang mendoakan kepada orang tuanya.” (HR.Muslim)

Kata al-tarbiyah yang berasal dari kata rabb atau rabba di dalam al-Qur’an disebutkan lebih dari delapan ratus kali dan sebagian besar atau bahkan hampir seluruhnya dengan tuhan, yaitu terkadang dihubungkan dengan alam jagat raya (bumi, langit, bulan, bintang, matahari, tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, laut dan sebagainya), dengan manusia seperti pada kata rabbuka (tuhan-mu), rabbukum (tuhanmu sekalian), rabbukuma (tuhan-mu berdua), rabbuna (tuhan kami), rabbuhu (tuhannya), rabbuhum (tuhan mereka semua), dan rabbiy (tuhan-ku).

فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam.”

Karena demikian luasnya pengertian al-tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata al-tarbiyah dengan arti pendidikan. Menurutnnya, kata al-tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga manjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia itu tidak memiliki persyaratan potensial, seperti akal, pancaindera, hati nurani, insting dan fitrah yang memungkinkan untuk dididik. Yang memilikik potensi-potensi akal, pancaindera, hati nurani, insting dan fitrah itu hanya manusia.

  1. Pengertian Ta’lim

Kata ta’lim yang jamaknya ta’alim, menurut Hans Weher dapat berarti information (pemberitahuan tentang sesuatu), advice (nasihat), instruction (perintah), direction (pengarahan), teaching (pengajaran), training (pelatihan), schooling (pembelajaran), education (pendidikan), dan apprenticeship (pekerjaan sebagai magang), masa belajar suatu keahlian.

Selanjutnya Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al-ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan hal mengajar dan melatih[11].

Penggunaan kata al-ta’lim dalam al-quran digunakan oleh Allah untuk mengajar nama-nama yang ada di alam jagat raya kepada nabi adam as. Dalam surat al-baqarah ayat 31:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

Yang telah mengajarkan al Quran (ar-Rahman: 2)

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Mengajarnya pandai berbicara (ar-Rahman: 4)

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66)

Dalam beberapa kitab tafsir kata ‘alama atau makna ta’lim itu adalah sebagai berikut:

وعلم فى تفسير البحرالمحيط:

kata ‘alama dalam Tafsir Al Bahrul Muhith adalah :

1.أسماء جميع المخلوقات, ( ابن عباس).

Sekalian nama-nama makhluk (Ibnu Abbas)

  1. اسم ما كان وما يكون الى يوم القيامه, ( عزى ابن عباس).

Nama yang sudah ada dan hingga hari kiamat.

  1. جميع اللغات.

Sekalian nama bahasa

  1. اسماء النجوم فقط,( ابن عباس ومجاهد وقتده).

Sekalian nama bintang-bintang

  1. اسماء الملأىكة فقط,( الربيع بن زياد).

Sekalian nama-nama malaikat

  1. اسماء الذريته والملأيكة,( الطبرى)

Sekalian nama keturunan malaikat

اسماء الأ جناس التى خلقها علمه ان هذا اسمه فرس وهذا اسمه بعير وهذا اسمه كذا وهذا اسمه كذا وعلمه احوالها وما يتعلق بها من المنافع الدينية والدنيوية,(الزمخشرى).

Sekalian nama jenis yang diciptakannya dan mengajarkannya sesungguhnya ini namanya kuda dan ini namanya binatang dan ini namanya seperti ini dan ini namanya seperi ini dan mengajarkannnya kondisi dan apa yang terkait dengannya apa yang bermanfaat bagi agama dan dunia.

  1. ماخلق فى الارض, (ابن قتيبه).

Dan sekalian apa yang terdapat dibumi

  1. اسماء الله عز وجل,  (الحكيم الترمذى).

Dan nama-nama Allah ajja wajala

(الرحمن. علم القراءن.خلق الانسان. علم البيان.)

تفسير (علم) : من شاء, اى, من عباده إنسا وجناوملكا, وقدر بعضهم محمدا أوجبربل.( البيان) : أسماء كل شىء, ما وجد وما لم يوجد يجميع اللغات[12].

Tafsir ‘allama : orang yang dikehendaki , artinya daripada hambanya baik bangsa manusia, jin dan malikat-malaikat dan juga ada hubungannya dengan muhammad dan jibril. Al bayan : sekalian nama sesuatu dan yang telah ada dan yang belum ada, sekalian nama bahasa.

Dengan demikian, kata al-ta’lim dalam al-qur’an menunjukkan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikamh, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, nama-nama atau symbol-simbol dan rumus-rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu yang terlarang seperti sihir. Ilmu-ilmu baik yang disampikan melalui proses al-ta’lim tersebut dilakukan oleh Allah swt, malaikat dan para nabi. Sedangkan ilmu yang berbahaya diajarkan oleh setan.

Kata al-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat nonformal, seperti majlis taklim yang saat ini sangat berkembang dan variasi, yaitu ada majlis taklim yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu di kanpung, ada majlis taklim di kalangan masyarakat elite, di kantoran, hotel dan kajian keagamaan. Dari segi materinya ada yang secara khusus membahas sebuah kitab tertentu, ada kajian tema-tema tertentu, ada kajian tentang tafsir, hadis, fikih dan sebagainya, dan ada pula yang diserahkan kepada tuan guru. Kata al-ta’lim dalam arti pendidikan sesungguhnnya kata yang lebih dahulu digunakan daripada al-tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengajran yang pertama kali dilakukan oleh nabi Muhammad saw di rumah al-Arqam (Dar al-Arqam) di Mekkah., dapat disebut dengan majlis al-ta’lim. Demikian pula pendidikan yang dilakukan di Indonesia yang dilaksankan oleh para da’I di rumah, mushalah, masjid, surau, langgar, atau tempat tertentu, pada mulanya merupakan kegiatan al-ta’lim. Kegiatan al-ta’lim hingga saat ini masih terus berlangsung di seluruh Indonesia.

Dengan memberikan data dan informasi tersebut, maka dengan jelas, bahwa kata al-ta’lim termasuk kata yang palling tua dan banyak digunakan dalam kegiatan nonformal dengan tekanan uatam pada pemberian wawasan, pengetahuan, atau informasi yang bersifat kognitif. Atas dasar ini, maka arti al-ta’lim lebih pas diartikan pengajaran daripada diartikan pendidikan. Namun, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, maka pengajaran juga termasuk pendidikan.

  1. Analisis

Pendidikan adalah suatu sistem artinya keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinteraksi antara satu dengan yang lainnya secara keseluruhan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan Adapun komponen-komponen tersebut meliputi:

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan ialah suatu yang di harapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. karena pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya. Maka berdasarkan pengertian diatas dapat diambil pelajaran bahwa tujuan pendidikan adalah Menumbuhkan dan mengembangkan potensi (fisik, intelektual, social, estetika, dan spiritual) yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal

  1. Peserta Didik

Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan bahwa peserta didik adalah komponen yang terpenting diantara kelompok lainnya. Sebab peserta didiklah yang membutuhkan pendidikan maka berdasarkan keterangan ayat yat al quran diatas dapat dipahami bahawa peserta didik adalah suatu Organisme yang hidup yang memiliki suatu kebutuhan, minat, kemampuan, dan masalah-masalah tertentu. Ia bersifat unik, memiliki bakat dan kematangan berkat adanya pengaruh-pengaruh dari luar, sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks.

  1. Pendidik

Pendidik sebagai pembimbing berkewajiban memberikan bantuan kepada peserta didik agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal dirinya sendiri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidik perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik mengumpulkan keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi kepribadian, dan psikologi belajar.

Pendidik sebagai pemimpin berkewajiban mengadakan supervisi atas kegiatan belajar peserta didik, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis. Pendidik harus punya jiwa kepemimpinan yang baik, seperti hubungan sosial, kemampuan berkomunikasi, ketenagaan, ketabahan, humor, tegas, dan bijaksana

Tanggung jawab pendidik yang terpenting ialah merencanakan dan membantu peserta didik  melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Pendidik harus membimbing peserta didik agar mereka memperoleh keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap yang serasi

  1. Bahan atau materi pelajaran

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, pendidik yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan  pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang pendidik sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang pendidik agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai olek anak didik Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT). Jenis sumber belajar yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi,

  1. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kata tarbiyah dan ta’lim memiliki banyak makna dan kandungan yang didapatkan dari kedua

Ta’lim adalah sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikamh, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, nama-nama atau symbol-simbol dan rumus-rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya,

Tarbiyah berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi (fisik, intelektual, social, estetika, dan spiritual) yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal, melalui cara memelihara, mengasuh merawat, memperbaiki dan mengaturnya secara terencana, sistematis dan berkelanjutan.

Ta’lim dan Tarbiyah adalah suatu sistem artinya Semua komponen saling berhubungan dan saling mempengaruhi untuk mencapai yang telah ditetapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  1. Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy : Al-Juz Al-Awwal, Beirut: Dar al-Fikr,tp.th.
  2. Al-abrosi, athiyah. 1970. dasa-dasar pokok pendidikan islam. Jakarta. Bulan bintang
  3. Al’allama Assyaid Muhammad Husain Atthabathabai, Almizan Fi Tafsir al Quran,Beirut, Lebanon, tp, .th. Juz 15.
  4. Denim, sudarwan. 2003. agenda pembaharuan system pendidikan. Yogyakarta. Pustaka pelajar
  5. Ditjen kelembagaan agama islam. 2005. profil madrasah ibtidaiyah. Jakarta. Departeman agama
  6. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakakrta: Departemen Agama RI, 2004
  7. Jalalain, Hasyatu Shawi  Ala Tafsiril Jalalain, Indonesia: tp, th, Juz 1.
  8. Muhammad Bin Yusuf Asysyahid Bi Abi Hayyan Al Andalusi, Fi Tafsir Bahrul Muhith,, Juz 1, Darul Kitab Al ‘Amalliyah, Beirut,Lebanon, Cet 1, 1993
  9. Nizar, samsul, 2002. filsafat pen islam pendekatan histories teoritis prakti. Bandung: ciputat pers
  10. Nata, Abuddin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana,2010. Cet-1.
  11. Undang-undang republic Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasiona 2006. Jakarta departemen agama RI
  12. Yunus, Mahmud, Kamus Arab Indonesia, Jakarta: PT.Mahmud Yunus Wadzurriyyah, 1990.

 

[1] Ditjen kelembagaan agama islam. 2005. profil madrasah ibtidaiyah. Jakarta. Departeman agama. Hal 1

[2] Al-abrosi, athiyah. 1970. dasa-dasar pokok pendidikan islam. Jakarta. Bulan bintang. Hal 1

[3] Undang-undang republic Indonesia nomor20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasiona pasal 3. l2006. Jakarta departemen agama RI

[4] Nizar, samsul, 2002. filsafat pen islam pendekatan histories teoritis prakti. Bandung: ciputat pers hal 175

[5] Denim, sudarwan. 2003. agenda pembaharuan system pendidikan. Yogyakarta. Pustaka pelajar. Hal 90

[6] Undang-undang republic Indonesia nomor20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasiona 2006. Jakarta departemen agama RI

[7] Hans Wehr, Mu’jam al-Lughah akl-Arabiyah al-Mu’ashirah (A Dictionary of modern Written Arabic), (Ed), J.Milton cowan, (Beirut: Librarie Du Liban & London: Macdonald & Evans LTD), 1974), hlm. 324. Dalam Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 7.

[8] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud  Yunus Wadzurriyah, 1990), hlm. 136

[9] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakakrta: Departemen Agama RI, 2004),

[10] Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy : Al-Juz Al-Awwal, (Beirut: Dar al-Fikr,tp.th.),hlm.30

[11] Mahmud Yunus, op.cit,hlm,278

[12] Jalalain,op.cit