Nasah al-Quran

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar belakang

Al-Qur’an sebagai kala>mullah menghimpun banyak hal, antara lain kisah-kisah umat terdahulu, ketetapan hukum, moralitas, i’tiqa>diyyah dan hal-hal lain yang bersumber dari al-Qur’an. Oleh karena itu, mempelajari dan mengetahui  serta memahami teks-teks al-Qur’an menjadi suatu hal yang sangat penting dan bersifat mutlak. Pengetahuan dan pemahaman terhadap makna – makna  yang  terkandung di dalam al-Qur’an tersebut akan menjadi tuntutan bahkan kewajiban  bagi orang yang memfokuskan kajian-kajiannya terhadap Ulu>mul  Qur’an (ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an). Di antara salah satu aspek Ulu>mul Qur’an yang harus diketahui  bagi orang yang sedang melakukan kajian al-Qur’an atau bagi orang yang hendak melakukan istinba>t  al-ah}ka>m (cara pengambilan atau penetapan hukum) yang didasarkan kepada dalil ‘aqli> ialah pengetahuan na>sikh-mansu>kh. Pengetahuan dan pemahaman terhadap na>sikh-mansu>kh akan menjadi persyaratan mutlak yang harus terpenuhi  dikarenakan dengan mengetahui dan memahami tentang na>sikh-masu>kh dapat menghindari  adanya kesalahan dalam menetapkan suatu hukum syara’.

Sebagai indikatornya ialah polemik seputar kawin kontrak (mut’ah). Adanya sebagian golongan ulama’ yang mengatakan bahwa kawin kontrak diperbolehkan dalam pandangan hukum  Islam dikarenakan adanya asumsi mereka yang berpendapat bahwa sikap Nabi Muhamad SAW yang memberikan izin kepada para sahabatnya untuk kawin kontrak (mut’ah) ketika dalam peperangan belum dinasakh.  Sementara bagi golongan ulama’ yang lain melarangnya dan beranggapan bahwa sikap Nabi Muhammad SAW yang mengizinkan hal tersebut telah dinasakh. Dengan demikian, Penulis memberikan  konklusi bahwa pengetahuan terhadap nasakh mansu>kh tersebut akan berimplikasi timbulnya perselisihan persepsi dikalangan ahli yurisprudensi  Islam (para pakar hukum Islam). Berkenaan dengan definisi nasakh mansu>kh, ruang lingkup, metode untuk mengetahuinya dan status hukumnya serta hal-hal  lain yang berkenaan dengan nasakh mansu>kh penulis akan menjelaskan dalam bab pembahasan.  Di samping itu, pengetahun terhadap na>sikh mansu>kh akan menjadi tidak berarti dan bahkan mustahil, apabila tidak didukung dengan pengetahuan terhadap periode turunnya ayat atau asba>bul al nuzu>l. Seseorang yang mengetahui asba>bul al nuzu>l berarti ia telah mengetahui kapan  sebuah ayat tersebut diturunkan. Kaitannya dengan na>sikh mansu>kh, seseorang dapat menetapkan bahwa ayat ini telah dinasakh (mansu>kh). Hal ini dikarenakan adanya ayat yang mansu>kh turunnya  lebih awal di bandingkan dengan ayat yang menasakh (na>sikh).

  1. B.       Rumusan Masalah
  2. C.      Tujuan
    1. Untuk mengetahui nasakh mansu>kh serta status hukumnya secara legalitas formal
    2. Untuk mengetahui cara penetapan nasakh-mansu>kh, syarat-syarat dan ruang    lingkup nasakh-mansu>kh.
    3. Untuk mengetahui hikmah nasakh-mansu>kh
  1. Apa definisi nasakh mansu>kh dan bagaimana hukumnya ?
  2. Bagaimana cara mengetahui, syarat-syarat, dan ruang lingkup nasakh mansu>kh?
  3. Apa hikmah nasakh-mansu>kh

D.    Manfaat

  1. Seseorang yang memahami tentang nasakh mansu>kh dapat mengetahui    kandungan-kandungan shari>ah Allah yang didalamnya terdapat banyak kebajikan
  2. Seseorang dapat mengetahui bahwa agama Islam merupakan agama yang hani>f dengan cara memberikan kemaslahatan bagi pengikutnya
  3. Seseorang dapat mengetahui nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada hambanya berupa taysi>r (kemudahan)

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.  Definisi Nasakh

Definisi nasakh ditinjau dari sisi etimologi dapat diartikan kedalam beberapa makna antara lain: al-Iza>lah (menghilangkan), al-Naql (memindahkan), al-Tabdi>l (mengganti), dan al-Tahwi>l (merubah)[1]. Dalam tinjauan terminologi, nasakh dapat di artikan sebagai masa berakhirnya sebuah ketetapan hukum yang berdasarkan kepada ayat (nas}s} shar’i>y) dan mengantikannya dengan hukum yang lain. Menurut ibnu Ha>jib nasakh adalah menghapus keberlakuan hukum shar’i>y dengan dalil shar’iy yang lain yang lebih akhir nuzu>l atau wuru>dnya[2]. Adapun mansu>kh dapat kita definisikan sebagai suatu ayat yang diturunkan lebih awal dan telah dihapus baik berupa hukum bacaannya saja, pengamalannya saja, maupun kedua-duanya[3].

Dari penjelasan diatas tentang definisi nasakh, penulis dapat menyimpulkan bahwa nasakh merupakan ayat atau nas} yang menghapus kandungan hukum shar’i>y yang terdapat pada ayat yang lainnya dengan tujuan memberikan kemaslahatan bagi umat manusia dan sekaligus menghindarkan mereka dari adanya mad}arrah bagi umat manusia. Dengan adanya nasakh-mansu>kh, mengakibatkan adanya ayat yang di nasakh telah tidak berlaku. Konsekuensinya. kandungan hukum yang terdapat pada ayat tersebut tidak dapat dijadikan acuan dan pedoman dalam penetapan hukum pada masa berikutnya.

  1. B.  Syarat dan Ruang Lingkup Nasakh Mansu>kh

Hubungannya dengan nasakh mansu>kh tidak semua ayat dapat dinasakh melainkan ayat-ayat tertentu saja. Oleh karena ayat-ayat tertentu saja yang dapat di nasakh, maka perlu adanya pengetahuan terhadap batasan atau syarat-syarat nasakh mansu>kh. Syarat-syarat nasakh mansu>kh yang dimaksud adalah[4]:

  1. Hukum yang mansu>kh adalah hukum syara’. Dengan demikian, apabila konteks nas}s} shar’iy yang dinasakh tersebut tidak berkenaan dengan hukum, melainkan dengan ancaman, janji ataupun aqi>dah, maka tidak termasuk dalam ruang lingkup nasakh mansu>kh
  2. Dalil penghapusan tersebut adalah khita>b shar’i yang datang lebih kemudian dari khita>b yang hukumnya mansu>kh. Dari definisi yang kedua ini penulis menyimpulkan bahwa na>sikh (nas}s} yang menasakh) haruslah khit}a>b shar’i>y baik dari al-Qur’an maupun h}adi>th Rasul SAW yang periode nuzu>l atau turunya lebih akhir dibandingkan dengan nas}s} yang dimansu>kh
  3. Khit}a>b yang mansu>kh hukumnya tidak terikat (dibatasi) dengan waktu tertentu, sebab jika demikian maka hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut dan yang demikian tidak dinamakan nasakh. Penghapusan terhadap kandungan nas}s}} yang dinasakh hendaklah hukum yang tidak ada batasan waktunya. Sebab jika kandungan nas}s} yang dimaksud tersebut didasarkan kepada batasan waktu tertentu maka tidak termasuk dalam kajian nasakh mansu>kh melainkan dengan berakhinya batasan waktu tersebut.

Berhubungan dengan nasakh mansu>kh, terdapat beberapa hal yang menjadi pedoman dan landasan, oleh karena itu tidak semua orang bisa mengatakan bahwa ayat ini adalah mansu>kh. Disamping itu, penetapan nasakh mansu>kh tidak bisa dilakukan secara personal atau individual melainkan secara kolektif yang dikenal dengan istilah ijma>’ ulama’ baik yang bersifat s}ari>h maupun yang bersifat suku>ti>. Pedoman dan landasan yang dimaksud ialah[5]:

  1. Berdasarkan kepada keterangan yang diambil dari Nabi SAW.

Keterangan dan penjelasan dari Nabi SAW adakalanya bersifat s}ari>h  (tegas) dan adakalanya dengan cara mengkompromikan antara dua nas}s} yang secara z}a>hir muta‘a>ridah (bertentangan). Dalam kajian us}u>l fiqh, nasakh mansu>kh merupakan langkah ketiga yang harus dilakukan terhadap nas}s}-nas}s} shar’iy  yang secara z}a>>hir muta’a>ridah (bertentangan). Adapun dua langkah sebelumnya ialah: mengkompromikan dan mentarji>h} salah-satunya. Sebagai salah satu contoh ialah:

 كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ  أَلَا فَزُوْرُوْهَا

  1. Berdasarkan kepada kesepakatan umat bahwa ayat ini na>sikh dan ayat itu mansu>kh

Pada bagian kedua ini, penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “umat” tersebut ialah manusia yang memfokuskan kajiannya atau yang dikenal dengan keahliannya terhadap ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an. Hal ini berdasarkan kepada sabda Nabi Muhammad SAW[6]:

 مَا رَأَهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًافَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ

Artinya: “apa yang dipandang baik menurut kaum muslimin maka hal tersebut di pandang baik pula disisi Allah SWT.”

Di samping itu, dari kata “umat” itulah penulis juga berpendapat bahwa penetapan nasakh mansu>kh tersebut tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus dilakukan secara kolektif.

  1. Mengetahui mana yang terlebih dahulu dan mana yang kemudian dalam persepektif sejarah.

Dalam hal ini seorang dapat menetapakan ayat ini telah dinasakh atau tidak apabila seseorang tersebut mengetahui asba>b al-nuzu>lnya dan periodenya.


  1. D.    Pembagian Nasa>kh[7]
    1. Nasa>kh ayat al-Qur’an dengan al-Qur’an

Dalam konteks ini, ulama>’ berkonsensus tentang keabsahannya dan telah terjadi pada sebagian ayat-ayat al-Qur’an. Contohnya ialah ayat yang berkenaan dengan ‘iddah.

 وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban ‘iddah bagi seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya selama satu tahun. Kemudian ayat ini dinasakh dengan ayat yang lain yang berbunyi:

 وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

  1. Nasa>kh al-Qur’an dengan al-Sunnah

Keitannya dengan nasa>kh al-Qur’an dengan al-Sunnah, para ulama’ berselisih pendapat. Perselisihan pendapat tersebut dapat kami jelaskan sebagai berikut:

  1. Dalam pandangan jumhu>r atau moyoritas ulama’, nasakh al-Qur’an dengan al-sunnah diakui keabsahannya. Sebagai contoh ialah dinasakhnyaayat tentang kewajiban berwasiat bagi orang yang telah mendekati ajalnya dengan hadi>th Nabi SAW yang menjelaskan tentang tidak bolehnya berwasiat kepada ahli waris.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِيْنَ

Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban berwasiat bagi orang yang akan menemui ajalnya. Kemudian dinasakh oleh h}adi>th Nabi yang berbunyi:

 ….أَلَا لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Menurut penulis, pada dasarnya antara al-Qur’an dengan al-h{adi>th menempati kedudukan yang setara. Hal ini dikarenakan adanya al-Sunnah yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW merupakan wahyu dari Allah SWT. Dengan demikian, ketika al-Sunnah yang menasakh al-Qur’an, pada hakikatnya adalah wahyu Allah bukan al-Sunnah.

  1. Sementara al-Sha>fi’i>y tidak mengakui keabsakan nasakh al-Qur’an dengan al-Sunnah.
    1. Nasakh al-Sunnah dengan al-Quran

Dalam hal ini pula, para ulama’ telah berkonsensus tentang kebolehannya. Sebagai contoh ialah perbuatan Nabi SAW ketika shalat yang menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 bulan yang kemudian dinasakh oleh ayat yang berbunyi:

 …..فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْحِدِالْحَرَامِ

  1. Nasakh al-Sunnah dengan al-Sunnah

Dalam hal ini, pada hakikatnya, banyak pembahasan tentang nasakh al-Sunnah dengan al-Sunnah, yang berhubungan dengan tentang khabar ah}a>d, mashhu>r, mutawa>tir, tetapi penulis tidak mengklasifikasikannya.

  1. E.     Macam-Macam Nasakh
    1. Nasakh tila>wah dan hukum. Misalnya apa yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lain, dari A<ishah, ia berkata:

رُوِيَ عَنْ عَا ئِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ فِيْمَا نُزِلَ مِنَ اْلقُرْأَنِ (عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ يُحَرِّمْنَ) فَنُسِخْنَ بِخَمْسِ رَضَعَاتٍ مَعْلُوْمَاتٍ,فَتُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ مِمَّا يُقْرَأُمِنَ اْلقُرْأَنِ

“Diantara yang diturunkan kepada beliau adalah ‘sepuluh susuan yang maklum itu menyebabkan muhrim’, kemudian (ketentuan) ini dinasakh oleh ‘lima susuan yang maklum’, maka ketika Rasul SAW wafat, ‘lima susuan’ ini termasuk ayat Qur’an yang dibaca (matlu>).”

Kata-kata A<ishah “lima susuan ini termasuk ayat al Qur’an yang di baca” pada lahirnya menunjukan bahwa tila>wahnya masih tetap. Tetapi tidak demikian halnya, karena ia tidak terdapat dalam mus}h}af uthma>ni. Kesimpulan demikian dijawab bahwa yang dimaksud dengan perkataan A<ishah tersebut ialah ketika beliau menjelang wafat.

Yang jelas bahwa tila>wahnya itu telah dinasakh (dihapus) tetapi penghapusan ini tidak sampai kepada semua orang kecuali sesudah Rasul SAW wafat. Oleh karena itu ketika beliau wafat, sebagian orang masih tetap membacanya.

  1. Nasakh hukum, sedangkan tila>wahnya tetap, misalnya nasakh hukum ayat ‘iddah selama satu tahun, sedang tila>wahnya tetap. Dalam hal ini, mungkin timbul pertanyaan apakah hikmah penghapusan hukum sedang tila>wahnya tetap?

Jawabannya, ada dua segi. Pertama, Al Quran, disamping dibaca untuk diketahui dan diamalkan hukumnya, juga ia dibaca karena ia adalah kala>m Allah dan yang membacanya mendapat pahala. Maka ditetapkanlah tila>wahnya karena hikmah ini. Kedua, Pada umumnya nasakh itu untuk meringankan. Maka ditetapkanlah tila>wahnya untuk mengingatkan akan nikmat dihapuskannya kesulitan (mashaqqah)

  1. Nasakh tila>wah sedangkan hukumnya tetap. Untuk macam ini, mereka mengemukakan sejumlah contoh. Diantaranya ayat tentang hukuman rajam.

 الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “orang tua laki-laki dan perempuan apabila keduanya berzina, maka rajamlah keduanya itu dengan pasti sebagai siksa dari Allah. Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”.


  1. F.     Hikmah Nasakh
  2. Memelihara kepentingan dan kebutuhan umat manusia[8]

Dalam konteks ini, penulis akan mengemukakan sebuah contoh yaitu ayat yang berkaitan dengan batasan ‘iddah yang kandungan hukumnya pada ayat ini dinasakh oleh ayat yang lain.

Menurut analisis  Penulis, dinasakhnya kandungan hukum yang terdapat pada ayat pertama yang mengharuskan bagi istri yang telah ditinggal mati oleh suaminya untuk melakukan ‘iddah selama satu tahun dengan kandungan hukum pada ayat yang kedua yang mengharuskan bagi istri yang telah ditinggal mati oleh suaminya untuk melakukan ‘iddah selama empat bulan sepuluh hari, merupakan karunia dan anugerah Allah SWT yang sangat besar. Seandainya Allah SWT tidak menasakh kandungan hukum pada ayat pertama, tentunya akan memberikan mashaqqah (kesulitan) bagi kaum wanita. Hal ini dikarenakan mayoritas kaum wanita memiliki kemampuan maksimal untuk tidak digauli oleh suaminya selama empat bulan sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh ‘Umar ibn Khat}t}a>b.

  1. Perkembangan Shari>’ah Allah menuju kesempurnaan[9]

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa shari>ah Allah diturunkan secara bertahap. Hal ini didasarkan kepada situasi dan kondisi sosial masyarakat baik dari sisi kesiapan mentalnya maupun fisiknya. Sebagai salah satu contoh ialah ayat yang berkaitan dengan keharapan mengkonsumsi khamr melalui tiga tahapan.

  1. Menghendaki adanya kebaikan dan kemudahan bagi umat[10].

Hubungannya dengan bagian yang ketiga ini, penulis ingin mengemukakan sebuah contoh yang berkaitan dengan qiblahnya kaum muslimin diawal keislaman yang menghadap ke Baitul Maqdis serupa dengan kaum Yahudi. Hal ini dilakukan oleh Rasul SAW selama enam belas tahun. Dalam perkembangannya, al-Sunnah ini dinasakh oleh ayat yang mengandung perintah untuk menghadap ke Masjidil Haram (ka’bah). Hal ini semata-mata agar tidak tashabbuh dengan kaum Yahudi dan menghindari adanya celaan dan ejekan mereka kepada kaum muslimin karena dianggap kaum muslimin meniru atau mengadopsi shari>ahnya kaum Yahudi.

  1. G.    Bentuk-Bentuk Nasakh.

Sebagaimana firman Allah SWT bahwa Allah tidak akan menasakh sebuah ayat melainkan Allah SWT akan mendatangkan yang lebih baik daripada ayat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ketika sebuah ayat dinasakh oleh Allah SWT, maka Allah SWT akan menggantinya dengan ayat yang lain. Dalam konteks ini, penulis dapat mengklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu

  1. Adakalanya ayat yang dinasakh diganti dengan ayat yang lain yang kandungan hukumnya lebih ringan. Sebagai contoh ialah diperbolehkannya menggauli istri dimalam hari di bulan Ramadhan dan sekaligus menasakh ayat yang lain yang terdapat pada surat al-Baqarah ayat 183

Keterangan dan kandungan ayat yang kedua yang terdapat pada surat al-Baqarah ayat 183 ini menjelaskan kewajiban puasa sebagaimana halnya puasanya orang-orang Yahudi yang tidak boleh makan, tidak boleh minum, dan menggauli istri di malam hari apabila yang bersangkutan telah melakukan s}ala>h petang atau sudah tidur sekalipun dimalam harinya bulan Ramadhan.

  1. Adakalanya ayat yang dinasakh diganti dengan ayat lainnya yang kandungan hukumnya sama dengan ayat yang dinasakh. Sebagai salah satu contoh ialah  penghapusan al-Sunnah Nabi yang menghadap ke Baitul Maqdis  dengan firman Allah SWT yang menunjukkan perintah menghadap Masjidil Haram

Menurut pandangan penulis, diperintahkanya Nabi Muhamad SAW untuk menghadap ka’bah tidaklah lebih berat dan tidak pula lebih ringan

  1. Adakalanya ayat yang dinasakh diganti dengan ayat lain yang kandungan hukumnya lebih berat. Sebagai salah satu contoh ialah ayat yang terdapat pada surah al-Nisa’ ayat 15 yang dinasakh dengan surat al-Nu>r ayat 2 tentang hukuman bagi wanita yang berbuat keji.

Ayat ini menjelasakan tentang hukuman bagi wanita yang berzina untuk dicambuk sebanyak seratus kali. Dengan adanya hukuman cambuk seratus kali yang menasakh kandungan ayat sebelumnya yang hanya menahan wanita berzina dirumah berarti terdapat penghapusan terhadap kandungan ayat dengan kandungan ayat yang lain yang lebih berat.

Disisi lain, terdapaat pula bentuk nasakh yang tidak diganti dengan ayat lain. Sebagai salah satu contoh ialah: al-Muja>dalah ayat 12. Ayat ini menjelaskan tentang keharusan memberikan sedekah kepada fakir miskin sebelum menjadikan perantaraan khusus dengan Rasul SAW. Hubungannya dengan kandungan ayat ini dinasakh  dengan ayat berikutnya yaitu: al-Muja>dalah ayat 13. Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa keharusan memberi sedekah kepada fakir miskin sebelum mengadakan pembicaraan dengan Ra>sul SAW bukanlah suatu kewajiban yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin.

Secara sekilas telah tampak bagi kita adanya pertentangan dengan yang terdapat pada surah al-Ba>qarah ayat 106 yang mengisyaratkan adanya pengganti yang lebih baik. Namun pendapat ini kemudian dapat dijawab bahwa tidak adanya pengganti itu justru lebih baik dari pada adanya pengganti disamping hal tersebut merupakan otoritas Allah SWT hubungannya dengan pemeliharaan terhadap kepentingan hamba.

  1. H.    Nasakh Mansu>kh Dalam Pandangan Legilitas Formal (shar’i>)

Dalam pandangan ulama’ terdapat perdebatan dan perselisihan dikalangan mereka tentang keabsahan  hukumnya secara legilitas formal>. Perbedaan persepsi tersebut dapat penulis deskripsikan sebagai berikut[11]:

  1. Sebagian ulama’ termasuk Abu> Muslim berpendapat bahwa nasakh tidak mungkin terjadai pada al-Qur’an. Hal ini berdasarkan kepada beberapa argumentasi, antara lain:
    1. Mengacu kepada ayat yang berbunyi

 لَا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ

  1. Bahwa yang dimaksud dengan kalimat مَا نَنْسَخْ adalah berlaku kepada kitab umat-umat terdahulu seperti Taurah dan Inji>l atau berarti berpindahnya dari lauh}ul mah}fu>dz
  2. Bahwa ayat al Qur’an adalah kalam Allah SWT yang sempurna yang tidak mungkin terdapat pertentangan dan perbedaan di dalamnya.
  3. Jumhu>r  ulama’ mengakui keabsahan nasakh mansu>kh secara legalitas formal.

Di anatara beberapa argumentasi yang dijadikan pegangan oleh mereka adalah mengacu kepada banyaknya ayat-ayat yang secarah s}a>ri>h menunjukan adanya nasakh mansu>kh.

Kaitannya dengan pro – kontra seputar keabsahan nasakh mansu>kh, penulis lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama’ yang memperbolehkan adanya nasakh mansu>kh didalam al-Qur’an. Hal ini mengingat  adanya kehendak shari>ah Allah SWT yang mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan, serta adanya perkembangan situasi dan kondisi manusia baik dari sisi mental maupun fisik, di samping adanya argumentasi atau h}ujjah syari>ah sebagaimana yang telah dipaparkan diatas.


BAB III

KESIMPULAN

Pada dasarnya, nasakh mansu>kh dapat diartikan dalam beberapa hal. Akan tetapi dari semua definisi  yang ada dan penulis menemukan titik singgung (Nuqtah Mushtarokah), yaitu tidak diberlakukannya kandungan hukum shar’i yang telah di nasakh dengan menggunakan dalil shar’i yang lain yang datang kemudian. Hubungannya dengan nasakh mansu>kh tidak semua orang dapat menetapkan atau memutuskan bahwa ayat ini telah dinasakh. Akan tetapi, nasakh mansu>kh ini disamping juga berdasarkan kepada keterangan dari Nabi Muhamad SAW, juga didasarkan kepada kosensus ulama’ baik yang bersifat s}a>rih} maupun suku>ti. Disamping itu pula, tidak semua ayat dapat di nasakh melainkan ayat-ayat tertentu yang berbicara hukum shari>’ah berupa perintah atau larangan. Ditinjau dari pembagiannya, nasakh dibagi menjadi empat bagian, yaitu: nasakh al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan H{adi>th, H{adi>th dengan al-Qur’an, H{adi>th dengan H{adi>th. Dan apabila dilihat dari macamnya, nasakh dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: qira>ah dan kandungan hukum yang dinasakh, qira>ahnya saja tanpa menasakh kandungan hukumnya, kandungan hukumnya saja tanpa menasakh qira>ahnya. Sedangkan dilihat dari bentuknya, nasakh dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu: nasakh berpengganti dan nasakh yang tidak berpengganti. Nasakh berpengganti memiliki tiga bentuk, yaitu: menasakh hukum dengan kandungan hukum yang lebih ringan, menaskh kandungan hukum dengan kandungan hukum yang sama, dan menasakh dengan kandungan hukum yang lebih berat. Berkenaan dengan hikmah nasakh sedikitnya ditemukan tiga hal, yaitu: memelihara kepentingan dan kebutuhan umat manusia, menunjukan s\hari>ah Allah menuju tingkat kesempurnaan dan menghendaki adanya kebaikan dan kemudahan bagi umat manusia. Sedangkan keabsahan status nasakh mansu>kh dipandang dari sudut pandang legalitas formal, maka dapat diklasifikasikan menjadi dua pendapat, yaitu pendapat jumhu>r  ulama>’ dan pendapat minoritas.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdul Hadi, Pengantar Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Cet. I. Surabaya: Graha Pustaka Islamic Multimedia, 2010.

 

Ah}mad al-H{a>shi>mi>, Mukhta>r al-Ah}adi>th, Surabaya: Da>r al-Ilmi,t.t.

al- T{abari>, Tafsir al-T{abari>, Cet. II.  Damaskus: Da>r al- Fikr, 1985.

Ali> al-S{a>bu>ni>, Tafsir ayat al-Ah}ka>m, Cet. IV. Damaskus: Da>r al- Fikr, 1995.

Manna>’ Khali>l al-Qat}t}an, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, Cet. VI. Jakarta: PT Pustaka Litera AntarNusa, 2001.

Muhammad Ya>sin bin Isa> al-Fa>dani al-Makki>, al-Fawa>id al-Janiyyah, Tafsir al-T{abari>, Cet. I Damaskus: Da>r al- Fikr, t.t.


[1] Ali> al-S{a>bu>ni>, Tafsir ayat al-Ah}ka>m, Cet. IV (Damaskus: Da>r al- Fikr, 1995), 68

[2] al- T{abari>, Tafsir al-T{abari>, Cet. II(Damaskus: Da>r al- Fikr, 1985), 732

[3] Abdul Hadi, Pengantar Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Cet. I (Surabaya: Graha Pustaka Islamic Multimedia, 2010),  171

[4] Manna>’ Khali>l al-Qat}t}an, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, Cet. VI (Jakarta: PT Pustaka Litera AntarNusa, 2001), 327

[5] Ibid., 330

[6] Ah}mad al-H{a>shi>mi>, Mukhta>r al-Ah}adi>th, (Surabaya: Da>r al-Ilmi,t.t),35

[7] Manna>’ Khali>l al-Qat}t}an, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, 334

[8] Muhammad Ya>sin bin Isa> al-Fa>dani al-Makki>, al-Fawa>id al-Janiyyah, Tafsir al-T{abari>, Cet. I (Damaskus: Da>r al- Fikr, t.t.), 164

[9] Manna>’ Khali>l al-Qat}t}an, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, 339

[10] Manna>’ Khali>l al-Qat}t}an, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, 339

[11] Ali> al-S{a>bu>ni>, Tafsir ayat al-Ah}ka>m, 65

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s