Sejarah perkembangan Hadith periode IV, V,VI,VII Sampai Abad -20

BAB I

PENDAHULUAN

Setelah Rasulullah SAW wafat, komunitas muslim yang belum lama lahir itu merasa sangat perlu menjaga kesinambungan wahyu. Tentu tugas signifikan ini, terpenuhi tidaknya tergantung dari tarap kesungguhan dan ketulusan dalam memenej informasi tersebut. Suatu fakta yang menunjukkan kearah pemikiran itu adalah proses tranmisi periwayatan naskah al-Quran hingga tahap kodifikasinya. al-Quran telah di periksa dan disatukan oleh Nabi sendiri, dan Hafsah (istri beliau) kemudian menyerahkan kepada Abu Bakar, dan seterusnya. Ini bukti yang tak terbantahkan bahwa naskah al-Quran telah di kumpulkan dengan ekstra hati-hati.

Wacana yang sama terlihat juga dalam metodologi pengumpulan dan penulisan Hadith. Sejarah pengumpulan dan penulisan Hadith dan ilmu Hadith telah melewati fase historis yang sangat panjang semenjak Nabi SAW, sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga mencapai puncaknya pada kurun abad III Hijriyah. Perjuangan para ulama Hadith yang telah berusaha dengan keras dalam melakukan penelitian dan penyeleksian terhadap hadish, mana yang soheh dan mana yang da’if, telah menghasilkan metode-metode yang cukup kaya, mulai dari metode penyusunan dalam berbagai bentuknya (musnad, sunan, jami’ dan lain-lainnya), hingga kaidah-kaidah penelusuran Hadith. Kaidah-kaidah tersebut akhirnya menjadi disiplin ilmu tersendiri yang kemudian disebut dengan ilmu Hadith.

Namun, karena pembukuan Hadith baru bisa di lakukan dalam rentang waktu yang cukup lama (hampir seratus tahun) setelah Nabi Muhammad SAW wafat, ditambah lagi dengan kenyataan sejarah bahwa banyak Hadith yang dipalsukan, maka keabsahan Hadith-Hadith yang beredar di kalangan kaum muslimin menjadi rancau, meskipun mereka telah meneliti dengan seksama.

Di sinilah bekal pegetahuan ilmu Hadith menjadi sangat bermanfaat bagi peneliti dan pengkaji Hadith. Karena untuk mempelajari dan mengkaji Hadith-Hadith Nabi, seseorang tidak bisa mengabaikan ilmu hadith ini. Dengan ilmu ini, para ulama’ bisa mengetahui kualitas Hadith, apakah termasuk Hadith shahih, hasan, atau dhaif. Dan para peneliti dan pengkaji Hadith harus mengetahui sejarah perkembangan Hadith, mulai Hadith zaman Nabi Muhammad, sahabat, atau zaman tabiin, bahkan sampai perkembangan Hadith zaman modern.

Usaha mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan Hadith ini di harapkan dapat mengetahui sikap dan tindakan umat Islam yang sebenarnya, khususnya para ulama’ ahli Hadith, terhadap Hadith serta usaha-usaha pembinaan dan pemeliharaan mereka pada tiap-tiap periodenya sampai akhirnya terwujud kitab-kitab hasil tadwin secara sempurna. Oleh karena itu, mengkaji sejarah ini berarti melakukan upaya mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya, sehingga sulit untuk ditolak kaberadaannya.

Perjalanan Hadith pada tiap periodenya mengalami berbagai persoalan dan hambatan yang dihadapinya, yang antara periode satu dengan periode lainnya tadak sama, maka pengungkapan sejarah perlu di ajukan ciri-ciri khusus dalam persoalan tersebut. Di antara ulama’ tidak sama dalam menyusun periodesasi pertumbuhan dan perkembangan Hadith ini. Ada ahli Hadith yang membagi pada tiga periode, seperti masa Nabi Muhammad SAW, sahabat dan tabi’in; masa pentadwinan; dan masa setelah tadwin. Ada juga yang membagi pada periodesasi yang lebih terinci, sampai lima atau tujuh periode, dengan spesifikasi yang cukup jelas.

Terlepas dari periodesasi yang kami kemukakan di atas, yang perlu di kemukakan secara khusus pada pembahasan ini adalah periode IV, V, VI, dan VII sampai sekarang .

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.SEJARAH PERKEMBANGAN HADITH PADA PERIODE IV, V, VI, DAN VII SAMPAI SEKARANG.

I.Hadith Periode IV (Penulisan Dan Kodifikasi Hadith)

Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan periwayatan Hadith mulai berkembang, sejalan dengan banyaknya ulama’ yang tertarik untuk menulis fatwa-fatwa dari para Sahabat dan Tabi’in dalam permasalahan-permasalahan yang timbul pada waktu itu. Dan untuk mengantisipasi hilangnya Hadith-Hadith nabi, karena adanya Hadith-Hadith palsu yang menyebar di kalangan sahabat yang wafat dalam menegakkan agama Allah, maka usaha penulisan dan kodifikasi (tadwin) Hadith semakin keras di lakukan para ulama’ di kalangan Tabi’in[1].

Kodifikasi atau tadwin Hadith, artinya ialah pencatatan, penulisan, atau pembukuan Hadith. Secara individual, seperti diuraikan dalam pembahasan diatas, pencatatan telah dilakukan oleh para Sahabat sejak zaman Rasul SAW. Akan tetapi yang dimaksud dalam pembahasan ini, ialah kodifikasi secara resmi berdasarkan perintah khalifah, dengan melibatkan beberapa personil yang ahli dalam masalah ini. Bukan yang dilakukan secara perseorangan atau untuk kepentingan pribadi, seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya[2].

Dan yang perlu digaris bawahi dalam pembahasan kodifikasi Hadith adalah, bahwa kodifikasi Hadith ini terjadi pada akhir qurun partama, dan pembahasan tentang kaidah-kaidah kodifikasi Hadith belum ditulis  pada waktu itu, akan tetapi hanya dikonsep dalam hati para penulis, dan di hati mereka terdapat Hadith- Hadith pilihan sebelum masa kodifikasi. Pun pula para perowi  dan  pengumpul Hadith tidak mempunyai dasar-dasar dan kaidah-kaidah tertulis penyusunan, akan tetapi mereka mempunyai dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang sempurna dalam hati walaupuntidak bisa diwujudkan dalam kenyataan[3].

Setelah agama islam tersiar luas di masyarakat, dipeluk dan dianut oleh penduduk yang bertempat tinggal diluar jazirah Arabia, dan para sahabat mulai terpencar di beberapa wilayah, bahkan tidak sedikit jumlahnya yang telah meninggal dunia, maka terasalah perlunya Al-Hadith di abadikan dalam bentuk tulisan dan kemudian di bukukan dalam dewan Hadith.Urgensi ini menggerakkan hati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah Bani Umayyah yang menjabat antara tahun 99 H sampai tahun 101 H, untuk menulis dan membukukan Al-Hadith[4].

Usaha kodifikasi Hadith yang pertama ini yang dipimoin oleh khalifah Umar bin ‘abdul Aziz  ( khalifah bani umayyah VIII ), melalui intruksinya kepada pejabat daerah agar memperhatikan dan mengumpulkan Hadith dari para penghafalnya. Intruksi khalifah yang pertama ini pertama kali di sampaikan pada Abu Bakr bin Muhammad ibn ‘mr ibn Hazm ( Gubernur Madinah ), ia mengirim instruksi yang iainya:

انظرماكان حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاكتبوه , فانى حفت دروس العلم وذهاب العلماء ولاتقبل الا حديث الرسول

“Perhatikan atau periksalah Hadith- Hadith Rasul SAW kemudian tulislah ! Aku khawatir akan lenyapnya ilmu dengan meninggalnya para ulama (para ahlinya). Dan janganlah kamu terima kecuali Hadith- Hadith dari Rasul SAW”

Dengan adanya perintah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz tersebut, para ulama mulai menulis dan membukukan Hadith dan pada waktu itu pula masjid-masjid dipenuhi para yang melakukan pengkajian dan pembahasan Hadith. Perintah tersebut diikuti dengan kebijaksanaan penggunaan sebagian Bait al-Mal  untuk membiayai kegiatan penulisan Hadith. Ibn Syihab al-Zuhri adalah orang yang pertama yang melaporkan pengumpulan Hadith pada permulaan abad ke-2.  Kemudian disusul oleh ulama yang lain bersamaan dengan kegiatan Ulama dalam bidang Ilmu-ilmu agama lainya,seperti Ilmu fikih, ilmu kalam, dan sebagainya. Oleh karena itu, masa ini dikenal dengan ‘ashr al-tadwin (masa pembukuan).

Abu bakr ibn Hazm berhasil menghimpun Hadith- Hadith yang ada pada ‘Amrah binti ‘Abd al-Rahman al-Anshari (murid kepercayaan ‘A’isyah),yang menurut Ulama tidaklah begitu lengkap.Sedangkan Ibn Syihab al Zuhri berhasil menghimpunnya, yang menurut penilaian para Ulama lebih lengkap. Akan tetapi, sayang sekali karya dari kedua ulama Tabi’in ini lenyap, tidak sampai diwariskan kepada generasi sekarang[5].

Motif utama Khalifah Umar bin Abdul Aziz berinisiatif membukukan Hadith:

a.Kemauan beliau yang kuat untuk tidak membiarkan Hadith seperti waktu yang sudah-sudah. Karena beliau hawatir akan hilang dan lenyapnya Hadith dari perbendaharaan masyarakat, disebabkan belum dikodifikasikannya dalam diwan Hadith.

b. kemauan beliau yang keras untuk membersihkan dan memelihara Hadith dari Hadith- Hadith maudlu’  yang di buat oleh orang-orang untuk mempertahankan ideologi golongannya dan mempertahankan madzhabnya, yang mulai tersiar sejak awal berdirinya kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a .

c.Alasan tidak didewankannya Hadith secara resmi di zaman Rasulullah SAW dan Khulafa al-rasyidin, karena adanya kekawatiran bercampur dengan Al-Quran.

d.Kalau zaman Khulafa al-Rasyidin belum pernah dibayangkan dan terjadi peperangan antara orang muslim dengan orang kafir, demikian juga perang saudara orang muslim yang kian hari kian menjadi-jadi, yang sekaligus berakibat berkurangnya jumlah ulama ahli Hadith[6].

Setelah periode Abu Bakr bin Hazm dan Ibnu Syihab berlalu, muncullah periode kodifikasi Hadith yang kedua yang disponsori oleh Khalifah-khalifah bani Abasiyah. Muncullah ulama-ulama Hadith pada periode ini seperti:

Kota

Ahli Hadith

Tahun

Nama kitab

Mekah

1. Ibnu Juraij

80-150 H

Madinah

1.Abu Ishaq

2.Malik bin Anas

3.Ibn Abi Dli’bin

W 150 H

93-179 H

80-158

Al-Muwattho’

Basrah

1.Al-Rabi’ bin shabih

2.Hammad bin Salamah

W 160 H

W 176 H

Kufah

Sufyan al-Thaury

97-161 H

Syam

Al-Awza’i

88-157 H

Yaman

Ma’mar bin Rasyind

93-153 H

Khurasan

Ibn al-Mubarak

118-181 H

Mesir

Abd Allah bin Wahhab

125-197 H

Ray

Jarir Ibn Abd al-Hamid

110=188 H

Al-Syafi’i

  1. 1.     Musnad al-Syafi’i (al-Umm)
  2. 2.    Mukhtalifu al-Hadith

Kitab Al-Muwaththa’ yang di susun oleh Imam Malik bin Anas adalah kitab tadwin pertama yang disusun tahun 143 H atas anjuran Khalifah Al-Manshur. Jumlah Hadithnya sebanyak 1720 buah, Al-Suyuti mensyarahi kitab ini dengan nama Tanwir a-Hawalik dan Al-Khaththabi mensyarahi dengan Muhtasharu al- Khaththaby.

II.Hadith Periode V (Masa  Pentashihan, Dan Penyempurnaan), Disebut Juga ‘Asru Tajrid Wa Al-Tahrir Wa Al-Tanqih.

a.Masa pentashihan Hadith.

Pada perterngahan abad kedua dan awal abad ketiga hijriyah, muncul ulama’-ulama’ besar yang menekuni spesialisasi Ilmu Hadith. Mereka mengkaji  Hadith- Hadith bukan hanya dari segi lafadl dan ma’na saja, bahkan mereka meneliti setiap perowi Hadith yang bersangkutan (Rijal al- Hadith ) guna menentukan apakah sebuah Hadith itu shahih atau tidak[7].

Masa pentashihan atau penyaringan Hadith terjadi ketika pemarintah dipegang oleh dinasti Bani Abbasiyah, khususnya sejak masa Al-Ma’mun sampai dengan Al-Mu’tadir (sekitar tahun 201-300 H ). Munculnya periode pentashihan ini, karena pada periode sebelumnya, yakni periode tadwin, belum berhasil memisahkan beberapa Hadith mauquf dan maqthu’ dari Hadith marfu’ . Begitu pula belum bisa memisahkan beberapa Hadith dha’if dari Hadith shahih[8].

Masa abad ketiga Hijriyah ini disebut masa kegemilangan dan kecemerlangan kekhidmatan pada Hadith Rasulullah sebab, pada masa ini dibukukan pula ilmu tentang para perowi Hadith guna mengetahui berbagai hal dan keadaan berkenaan dengan segi kepribadian serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan sebuah Hadith.

Diantara ulama’ yang pertama kali menyusun ilmu Rijal al- Hadith ialah: Yahya bin Mu’in (233 H), Ahmad ibn Hanbal (241 H), Nuhammad bin Sa’ad, Imam Bukhori, Imam Muslim, Abu Dawud al-Sajistani, Al-Nasa’i, dan sebagainya. Diantara nama ulama dan kitab yang masyhur pada abad III H

Ahli Hadith

Nama kitab

Tahun

Keterangan

1.Abu Abdu Allah bin Ismail bin Ibrahim al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari

Al-Jami’ al Shahih Al-Bukhari

194-252 H

Enam kitab Hadith ini dikalangan kaum muslimin dikenal dengan Al-Kutub al-Sittah

2.Abu Husain Muslim bin Al-Hajjaj al-Qusairi al-Naisaburi    ( Imam Muslim )

Al-Jami’ al Shahih Muslim

204-261 H

3.Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’asi bin Ishaq al-sijistani

Sunan Abu Dawud

202-275 H

4.Abu Isa Muhammad bin Isa bin Sirah al-Tirmidzi

  Sunan al-Tirmidzi

200-279 H

5.Abu Abd al-Rahman bin Su’aid bin Bahr al-Nansa’i

Sunan al-Nasa’i

215-302 H

6.Abu Abd Allah bin Yazid Ibn Majah

Sunan Ibn Majah

207-237 H

 

Menurut sebagian ulama’ , aturan diatas menunjukkan urutan kualitas masing-masing, sehingga penyebutannya menjadi baku, sebab ada yang mempersoalkan apakah yang pertama itu karya Al-Bukhori atau Muslim. Begitu juga halnya dengan urutan-urutan lainnya.kemudian urutan keenam juga ada perbedaan pendapat, ada yang menempatkan Malik bin Anas dan ada yang menempatkan Al-Darimi. Mayoritas ulama’ mengikuti pendapat pertama[9].

b.Masa penyempurnaan sistim penulisan Hadith.

Penyusunan kitab-kitab pada masa ini lebih mengarah pada usaha mengembangkan beberapa variasi pen-tadwinan terhadap kitab-kitab yang sudah ada. Maka setelah berjalan beberapa saat dari munculnya Kutub al-Sittah, Al-Muwattha’ Malik bin Anas, dan al-musnad Ahmad bin Hanbal, para ulama mengalihkan perhatian untuk menyusun kitab-kitab Jawami’ (mengumpulkan kitab-kitab Hadith dalam satu karya), Kitab Syarh (kitab komentar dan uraian), kitab Mukhtashar (kitab ringkasan), men-Takhrij (mengkaji sanad dan mengembalikan pada sumbernya), menyusun kitab athraf (menyusun pangkal-pangkal suatu Hadith sebagai petunjuk kepada materi Hadith secara keseluruhan), dan penyusunan kitab Hadith untuk topik-topik tertentu[10].

III.Hadith Periode VI (Masa Pemeliharaan,Penertiban Dan Penambahan), Masa Ini Juga Disebut  ‘Asru Tahdhib Wa Al-Tartib Wa Al-Istidrak .

Kalau pada abad pertama, kedua dan ketiga, Hadith mengalami berturut-turut periwayatan,penulisan, dan penyaringan dari fatwa-fatwa para sahabat dan tabi’in, dan Hadith yang telah didewan oleh ulama Mutaqoddimin (ulama abad I sampai III ) tersebut mengalami sasaran baru , yakni di hafal dan diselidiki sanadnya oleh ulama mutaakhkhirin (ulama abad IV dan seterusnya).

Para ahli Hadith berlomba-lomba untuk menghafal sebanyak-banyaknya Hadith yang telah terdewan itu, hingga tidak mustahil sebagian dari mereka sanggup menghafal beratus-ratus ribu Hadith .Sejak periode inilah timbul bermacam-macam gelar keahlian dalam ilmu Hadith,seperti Al-Hakim, Al-Hafidz dan lainnya.

Abad keempat ini adalah abad pemisah antara ulama mutaqoddimin, yang dalam penyusunan kitab Hadith mereka berusaha sendiri menemui para sahabat atau tabi’in penghafal Hadith kemudian meneliti sendiri dengan ulama mutaakhirin yang usahanya menyusun kitab-kitab Hadith, mereka hanya menukil dari kitab-kitab ulama mutaqaddimin.

Kitab-kitab yang masyhur hasil karya ulama abad keempat antara lain

Nama kitab Penyusun Tahun
1.Mu’jam al-Kabir

2.Mu’jam al-Ausat

3.Mu’jam al-ShaghirImam Sulaiman bin Ahmad al-TabaranyW 360 H4.Sunan Al-DaruqutnyImamAbdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad al- Daruqutny306-385 H5.Shahih Abi AuwanahAbi Auwanah Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim al-AsfarayinyW 354 H6.Shahih Ibnu Khuzaimah  Ibnu Khuzaimah Muhammad      bin IshaqW 316 H7.Shahih Ibnu HibbanAbu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad al-Tamimi al-BustiW 354 H8.Al-MustadrakAbu Abdillah bin muhammad Abdullah al-Naisabury312-405

Dan masih banyak kitab-kitab yang tidak bisa penulis paparkan disini.

IV.Hadith Periode VII (Masa Pensyarahan, Penghimpunan, Pentakhrijan, Dan Pembahasan), Disebut Juga ‘Asru Al-Syarh Wa Al-Jami’ Wa Al-Takhrij Wa Al-Bahs.

Usaha ulama ahli Hadith pada abad V dan seterusnya adalah ditujukan untuk mengklasifikasikan Hadith dengan menghimpun Hadith-Hadith yang sejenis kandungannya atau sejenis sifat-sifat isinya dalam kitab Hadith. Di samping itu mereka pada men-syarahkan (menguraikan dengan luas), dan meng-ikhtishar (meringkaskan) kitab-kitab Hadith yang telah disusun oleh ulama yang mendahuluainya. Oleh karena itu, lahirnya kitab-kitab Hadith hukum; seperti :

1.Sunan al-Kubra, karya Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali al-Baihaqy (384-458 H).

2.Muntaqa al-Akhbar, karya Majduddin al-Harrany (w 652 H).

3.Nailu al-Autar, sebagai syarah dari kitab Muntaqa al-Akhbar, karya Muhammad bin Ali al-Syaukany (1172-1250 H).

Kitab-kitab Hadith Targhib wa al-Tarhib, seperti:

  1. Targhib wa al-Tarhib, karya Imam Zakiyu al-Din Abdu al-Adzim al-Mundziri (w 656 H).
  2. Dalilu al-Falihin, karya Muhammad Ibn ‘Allan Al-Siddiqy (w 1057 H), sebegai Syarah kitab Riyadu al-Shalihin, karya Imam Muhyid al-Din Abi Zakariya al-Nawawi.

Selanjutnya bangkit ulama ahli Hadith yang berusaha menciptakan kamus Hadith untuk mencari pentakhrij suatu  Hadith atau untuk mengetahui dari kitab Hadith apa suatu Hadith itu didapatkan, seperti:

1.Al-Jami’ al-Shaghir fi AHadithi al-Basyiri al-Nadzir, Karya Imam Jalalu al-Din al-Suyuty (849-911 H).Kitab ini mengumpulkan haidth-Hadith yang terdapat pada Kutub al-Sittah dan lainnya, dan selesai ditulis tahun 907 H.

2.Dakhair al-Mawarith fi al-Dalalati ‘ala Mawadli’i al-AHadith, karya Al-Alamah al-Sayyid Abdu al-Ghani al-Maqdisy al-Nabulisy.di dalamnya terkumpul kitab Athraf 7 (Shahih Bukhary-Muslim, sunan empat dan Muwatta’ ).

3.Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadli al-Hadith al-Nabawy, karya Dr.A.J Winsinc dan Dr.J.F Mensing, selesai tahun 1936 M.

4.Miftah kunuzi al-Sunnah, karya Dr.Winsinc, berisikan Hadith-Hadith yang terdapat 14 macam kitab Hadith, dicetak pertama tahun 1934 di mesir[11].

B.FORMAT KITAB-KITAB HADITH

Kodifikasi Hadith/Sunnah dalam bentuk kitab mengenal beberapa macam format, bermula bentuk shahifah (lembaran-lembaran tidak terjilid) semisal shakhifah Abdullah Ibnu Amr Ibnul-Ash, Ali Ibnu Abi Thalib, Abdullah Ibnu Abbas, Abu Musa al-Asy’ari, Sa’ad Ibnu ‘Ubadah serta shakhifah Hamam Ibnu Munabbih. Format yang muncul kemudian adalah musnad, al-sunah, al-jami’, mustadrak,mustakhraj, mu’jam, al-faharis, al-athraf, al-ajza’, al-mukhtarat, adillah al-ahkam dan lain-lain.

Berikut ini penjelasan singkat beberapa format kitab hadis yang populer:

  1. Al-Jami’

Format kitab al-jami’ adalah kitab koleksi hadis yang melengkapi ke 8 (delapan) materi pokok hadis, yaitu materi aqa’id, hadis hukum, al-riqaq (suluk dan perikehidupan zuhud), adab al-mufrad (etika perorangan), materi tafsir, tarikh dan sirah, materi al-syamail (tata cara bepergian, duduk dan berdiri), ramalan fitnah, manaqib (biografi) keluarga Nabi/Khulafa’ al-Rasyidin/tokoh-tokoh shahabat. Contoh representatif untuk format al-jami’ adalah al-jami’ al-Bukhori dan al-jami’ al-Turmudzi. Adapun shahih Muslim tidak digolongkan karena tidak memuat hadis-hadis bermateri tafsir nabawi dan qira’ah.

  1. Al-Musnad

Kitab koleksi hadis dinyatakan berformat musnad apabila koleksi hadis (sunnah) ditertibkan berdasarkan atas nama panggilan sahabat perawinya. Ada beberapa cara yang dianut oleh kitab musnad, berdasar persatuan kabilah (suku bangsaan rawi) atau berdasar rangking nasab. Untuk cara terakhir ini urutan terdepan diperuntukkan hadis yang diriwayatkan sahabat Bani Hasyim. Sehingga hadis yang bersandar pada Ustman bin Affan berada di depan, di susul kemudian oleh hadis yang bersandar pada Abu Bakar al-Shiddiq.

Kitab musnad Imam Ahmad Ibnu Hambal disusun berdasar atas senioritas keislaman perawi, terepan ditempati hadis-hadis riwayat 10 orang yang dijanjikan jaminan masuk sorga, urutan kedua sahabat peserta perang Badar, ketiga peserta shulhu Hudaibiyah, keempat sahabat yang mengiuti gelombang keislaman massal saat fathu Makkah, kelima sahabat kecil, keenam para ummul mu’minin dan ketujuh wanita sahabiyah.

Kitab hadis berformat musnad semula dogemari masyarakat karena terbawa oleh arus fanatik kepada tokoh legendaris mereka. Penduduk Koufah gemar membaca musnad Yahya Ibnu Humaid al-Hamami. Penduduk Basrah menekuni musnad Musannad Ibnu Musarhad (w.228 h). Kitab format musnad Ibnu Abi Syaibah (w.235 h.), musnad Ibnu Rahawaih (w. 237 h), musnad Imam Muhammad Ibnu Idris al-Syafi’i dan musnad al-Dailami digemari oleh penduduk antar daerah. Disinyalir kitab format musnad terbesar dan terpadat isinya adalah musnad (mushanaf) Baqi’ Ibnu makhlad al-Qurthubiy (w. 176 h) diperkirakan memuat hadis koleksi dari sejumlah 1300 orang sahabat Nabi, sayang kitab tersebur hilang seiring sejarah kehancuran pemerintah Islam di Andalusia (Spanyol).

Kelemahan umum kitab hadis berformat musnad tersebab oleh ketiadaan informasi tertulis mengenai derajat kualitas hadis (matan atau sanadnya), disamping sulit menerka pokok bahasannya. Walau demikian kitab musnad berjasa besar dalam memisahklan hadis dari qaul (pendapat) sahabat dan fatwa tabi’in.

  1. Sunan

Kitab hadis berformat sunan mengkhususkan diri pada koleksi hadis marfu’ dan sama sekali tidak memberikan tempat pada atsar. Perlakuan semacam itu selaras dengan komitmen ulama muhaddisin bahwa riwayat mawquf hanya boleh dinamakan hadis, bukan sunnah. Kutubus-sunnah tidak lain adalah kitab yang sengaja menyajikan informasi sunnah dalam arti materi ajaran Islam penting untuk diikuti dan ditradisikan. Kutubus-sunnah bersikap ketat melokalisir sunah dan hadis (marfu’) pada periode kemurnian dan keutuhan ajaran Islam. Hadis yang terkoleksi pasca umat Islam dilanda oleh berbagai faham bid’ah dan faham sektarian sengaja dikesampingkan. Sistematika kitab sunnah amat menyerupai pengaturan topik bahasan (bab) dalam kitab yang membahas disiplin ilmu fiqih, sehingga mudah menduga  materi hukum syara’ yang dikandung oleh setiap matan hadis. Studi hadis melalui kitab sunan akan mudah mengetahui mutu (nilai) riwayatnya.

Kitab hadis berformat sunan sebelum periode Bukhari Muslim antara lain Sunan Abd. Razaq Ibnu Hamam (w. 211 h), Sunan Ibnu Juraij, Sunan Ibnu Ishaq dan Sunan al-Daulabi. Periode sesudah Bukhari-Muslim yang menonjol antara lain Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasai, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Baihaqi (w. 458), Sunan al-Hafidz Ibnu Hibban (w. 739 h) dan Sunan al-Hafidz Ibnu Sakan.

  1. Mustadrak

Istidrak (akar kata mustadrak) berarti susulan. Kitab hadis format mustadrak muncul sesudah berlaku kodifikasi hadis berformat sunan. Motifasi utama kelahiran kitab mustadrak adalah asumsi bahwa belum tentu seluruh hadis/sunnah bermutu shahih telah tertampung dalam kutubussattah (sunan al-sittah), karenanya perlu upaya menyusuli (istidrak) guna memperkaya hasanah hadis bermutu shahih. Upaya istidrak ditekankan pada mencari tambahan koleksi hadis shahih, karenanya berbeda kepentingan dengan kitab hadis format al-Zawaid yang motifasi penyusunnya tertuju pada penambahan koleksi hadis semata-mata, terlepas mutu riwayatnya.

Standarisasi yang diterapkan pada kitab format mustadrak rata-rata mengikuti pedoman kualifikasi ulama muhaddisin yang telah baku. Sebagai contoh mustadrak Imam al-Hakim al-Naisaburi (w. 405 h) nyata berorientasi pada persyaratan Imam al-Bukhari terpadu dengan persyaratan yang dipegangi oleh Imam Muslim. Sedangkan mustadrak Abu Dzar al-Anshari agaknya mengambil pedoman persyaratan kualifikasi hadis yang lazim dipakai oleh Imam Muslim.

  1. Mustakhraj

Kitab hadis berformat mustakhraj adalah kitab yang oleh penyusunnya dimaksudkan sebagai upaya peningkatan derajat keluhuran sanad, tidak diarahkan untuk menguji/mendeteksi legalitas maupun otentisitas hadis. Kitab format mustakhraj menyajikan sistem tansmisi (sanad) hadis yang berbeda dengan sanad yang ada untuk matan yang sama.

Seperti yang dilakukan oleh al-Baihaqi dalam kitab Sunan al-Shaghirah dan Sunan al-Kabir, al-Baghawi dengan Syarhu al-Sunnah, kedua ulama hadis tersebut mengeluarkan/mencoba perbandingan (matan) hadis eks koleksi Imam Aal-Bukhari atau Muslim dengan tujuan menampilkan sanad yang berbeda jalurnya.

Kitab mustakhraj mampu menyumbangkan hal-hal yang positif bagi hadis yang dijadikan sampel, antara lain ahdis yang semula ‘an’anah menjadi sima’ah, perawi mubham lantaran subyek tokoh dalam materi hadis yang semula tidak diketahui nama terangnya menjadi jelas, rawi muhmal karena tidak diketahui nama orang tuanya akan menjadi terang/lengkap, hadis yang semula diduga mursal atau mu’allaq menjadi muttasil, hadis ‘Aliy mewajahi hadis yang bermula nazil dan ketahanan suatu hadis menjadi semakin kuat bila dihadapkan pada situasi ta’arudh (kontradiksi antar hadis).

Penelaah hadis yang termuat dalam koleksi format mustakhraj perlu waspada karena pada ghalibnya redaksi matan tersajikan dalam formula yang berbeda bila diperbandingkan dengan kitab sumber pembandingnya. Para penyusun kitab mustakhraj rata-rata mengunggulkan redaksi matan yang diajaran oleh syaikh hadis kepasa ulama itu berguru hadis. Oleh sebab itu seyogyanya redaksi matan eks kitab format mustakhraj diteliti ulang dengan kitab sumber/pembandingnya. Langkah serupa itu justru perlu dilakukan pada saat mengutip matan hadis dari kitab format mukhtashar (ringakasan/editing) karena pada teknik penyalinan semula diupayakan dengan memelihara keutuhan matan hadis dari kitab aslinya.

Selama ini format kitab mustakhraj mengambil obyek studi banding dengan Shahih al-Bukhari Muslim seperti mustakhraj Abu Bakar al-Isma’ili (w. 371 h) dengan obyek kajian al-Jami’ al-Bukhari, sedangkan mustakhraj Abu Awanah al-Isfarayini (w 316 h) mengambil obyek pada Shahih Muslim.

  1. Takhrij

Format takhrij mirip sekali dengan resensi, yakni upaya mengeluarkan hadis-hadis yang termuat sebagai dasar rujukan (referensi tesktual) oleh kalangan ulama dalam aneka disiplin keilmuan Islam. Hadis-hadis yang tersajikan dalam kesederhanaan dianalisis derajat kualifikasinya dengan menunjuk sumber pengambilan, sanad/perawi pertama berikut komentar atau kritik ulama muhaddisin utamanya ahlut-ta’dil wat-tarjih terhadap hadis tersebut.

Teknik penyajian takhrij (resensi) hadis ada kalanya menyerupai foot note (catatan kaki) seperti dilakukan oleh Zainuddin al-Iraqi (w. 806 h) terhadap hadis-hadis yang dijadikan landas wawasan hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam Ihyau Ulumuddin. Al-Iraqi memberi nama karya takhrijnya itu dengan “al-Mughni ‘an Hamli al-Asfari fi Takhriji ma fi al-Ihyai min al-Akbari”. Komentar resensi al-‘Iraqi dimuat pada margin bawah kitab Ihyau Ulumuddin. Cara serupa dilakukan oelh Jamaluddin al-Hanafi (w. 762 h) mentakhrij hadis-hadis yang dimanfaatkan oleh Jarullah al-Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasyaf. Diikuti kemudian oleh Muhammad Humam Zadah mentakhrij hadis-hadis yang dimuat melengkapi pemikiran tafsif Imam al-Baidhawi dalam Anwaru at-Tanzil, karya resensinya di9beri judul Tuhfah al-Rawi fi Takhriji Ahadisi al-Baidhawi.

Berbeda teknik dilakukan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani yang mentakhrij kitab-kitab fiqih “al-Minhaj” dan di beri judul “Talkhis al-Kabir” dimuat sebagai bentuk hasyiah dan kitabnya berjudul al-Majmu’ syarah dari kitab al-Muhadzab.

Berkat bantuan kitab hadis ber format takhrij itu masyarakat pembaca kitab tafsir, fiqih dan sejenisnya mudah mengetahui mutu riwayat hadis-hadis yang terpasang sebagai sandaran (dasar argumentasi) mushannif kitab-kitab itu tanpa harus berpayah-payah menyelidiki sendiri melalui teori konvensional ilmu hadis dirayah. Sekalipun demikian subyektifitas pihak pentakhrij nampak sekali[12].

BAB III

KESIMPULAN

 

 

Sebenarnya, penulisan Hadith Nabi telah dilakukan semasa Rasulullah masih hidup oleh beberapa Sahabat. Hanya saja, penulisan itu tidak begitu banyak atau menyeluruh dan belum dibukukan. Para sahabat generasi awal, selain bersandar pada tulisan yang ada, juga berpegang pada ingatan dan hafalan mereka. Pembukuan Hadith secara resmi dimulai pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjelang akhir abad pertama hijriyah. Sesudah itu, pembukuan dan penulisan Hadith melewati beberapa proses yang semuanya bertujuan mencapai kesempurnaan dan penjagaan atas keaslian Hadith-Hadith tersebut. Karenanya, sangatlah tidak pantas kalau kaum muslim meragukan keshahihan Hadith-Hadith yang telah dikumpulkan dan dibukukan dalam kitab-kitab Hadith yang terkenal. Sebab penulisan dan pembukuan Hadith dilakukan dengan hati-hati.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Hasjim. Kodifikasi Hadis Dalam Kitab Mu’tabar. Surabaya: Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya, 2003.

Al-Khatib, M.Ajjaj. Ushul al-Hadith Ulumihi wa Musthalikhihi. Beirut: Dar al-Fikr,2006.

Ibn  Muhammad Abu Syahbah, Muhammad.  Al- Wasiit fi al-Ulum wa Musthola al-Hadith. Mesir: Dar al- Fikr al-Arabi, ttp.

Ibn Qutaibah al-Daenury, Imam Abdullah bin Muslim. Ta’wil Mukhtalafi al-Hadith. Beirut: Dar al-Fikr 1995.

Rahman,  Fatchur. Ikhtishar Mushthalahu’l Hadits. Bandung: PT Alma’arif, 1974.

Ranuwijaya, Utang. Ilmu Hadis. Jakarta Selatan: Gaya Media Pratama, 1996.

Sulaiman PL, Noor. Antologi Ilmu Hadith. Jakarta: Gaung Persada Press, 2008.

Suparta, Munzier. Ilmu Hadis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Yusof, Ismail. Al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam. Bandung: Yayasan Muthahhari Untuk Pencerahan Pemikiran Islam, 1995.


[1] Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadith (Jakarta:Gaung Persada Press,2008),69

[2] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis (Jakarta Selatan:Gaya Media Pratama, 1996), 66.

[3] Muhammad ibn  Muhammad Abu Syahbah,  Al- Wasiit fi al-Ulum wa Musthola al-Hadith (Mesir:Dar al- Fikr al-Arabi,ttp),27.

[4] Fatchur Rahman,  Ikhtishar Mushthalahu’l Hadits (Bandung:PT Alma’arif,1974)52

[5] Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadith,72

[6] Fatchur Rahman, Ikhtishar Mushthalahu’l Hadis,52-53

[7] Ismail Yusof, Al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam (Bandung:Yayasan muthahhari untuk pencerhan pemikiran islam),vol 15,hlm 40.

[8] Munzier Suparta, Ilmu Hadis ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2003 ),92.

[9] Utang Ranuwijaya,  Ilmu hadis, hal 70-71.

[10] Ibid, 71-72.

[11] Ibid.,59-60.

[12]Hasjim Abbas, Kodifikasi Hadis Dalam Kitab Mu’tabar  (Surabaya:Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya,2003),7-12

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s