Tafsir Tarbawi

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan istilah tarbiyah dan ta’lim sudah tidak asing lagi. Sejarah pendidikan dalam islam itu adalah berdasarkan kegiatan yang dilakuakan oleh para ulama dan ustadz kita pada masa lalu, yang sering disebut dengan istilah pengajian ataupun majelis ta’lim. Dari istilah inilah muncul konsep tentang pengertian pendidikan dalam perspektif islam berupa tarbiyah, ta’lim, ta’dib, tahdzib, al-wadz atau mau’idzah, al-riyadhah, ai-tazkiyah, al-talqin, al-tadris, al-tafaqquh, al-tabyin, al-tazkirah dan al-irsyad ini semua adalah istilah-istilah yang berkaitan dengan pendidikan dalam islam.

Dalam tulisan ini kami hanya akan menyajikan materi tentang tarbiyah dan ta’lim dalam al-quran. Jadi, kata tarbiyah  dan ta’lim merupakan istilah bahasa yang diambil dari al-Qur’an.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah makna kata tarbiyah dan ta’lim dalam al-quran?
  3. Bagaimana makna kata tarbiyah dan ta’lim menurut para mufassir?
  4. Tujuan
  5. Mengetahui makna kata tarbiyah dan ta’lim dalam al-quran
  6. Mendiskripsikan makna kata tarbiyah dan ta’lim menurut para mufassir

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Tarbiyah

Pengertian tarbiyah yang akan kita bahas pada pembahasan ini hanya yang terdapat dalam al Qur’an surat al-Faihah ayat 2, surat al-Isra’ ayat 24, surat ar-Rum ayat 39 dan surat asy Syuara ayat 16.

Dalam mu’jam al-Lughah al-Arabiyah al-Mu’ashirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), karangan Hans Wehr, kata al-tarbiyah diartikan sebagai: education (pendidikan), upbringing (pengembangan), teaching (pengajaran), instruction (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising (of animals) (menumbuhkan).[1] Kata tarbiyah berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban ( yang berarti mengasuh, memimpin, mangasuh (anak).[2] Penjelasan atas kata al-tarbiyah ini lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut.

Pertama, tarbiyah berasal dari kata رَبَا- يَرْبُوْ – رِبَاءً yang memiliki makna bertambah (zad) dan tumbuh.  Pengertian ini misalnya terdapat dalam surat ar-Rum (30) ayat 39:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah

Berdasarkan pada ayat tersebut, makna al-tarbiyah dapat berarti menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, social, maupun spiritual.

Kedua, رَبَّ – يَرُبِّ – رَبّا  yang memiliki makna mengasuh, memimpin. Dengan mengacu pada kata yang kedua ini, maka tarbiyah berarti usaha mengasuh, memelihara dan mendewasakan peserta didik baik secara fisik, social maupun spiritual.

Ketiga, رَبَتَ – يَرْبِتُ – رَبْتًا yang mengandung arti mendidik, dan dalam mendidik meliputi memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Dengan menggunakan kata yang ketiga ini, maka tarbiyah berarti usaha memelihara, mangasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam kehidpannya.

Sedangkan dalam beberapa kitab tafsir kata رب  memiliki beberapa makna, diantaranya sebagai berikut:

الربّ: يطلق على السيد, والمالك, والمعبودز والثابت, والمصلح,اى ( العالم )[3]

Arrabbu : dikaitkan atas penghulu, yang merajai , yang disembah, yang menetapkan dan membaguskan sekalian alam.

الرب في تفسير المزان: هو المالك الذي يدبر أمر مملوكه[4]

Arrabbu dalam tafsir almizan : dia yang merajai dan mengatur lagi memerintahkan hamba-Nya.

الربّ: يطلق على السيد والمالك والمعبود والثابت,  المصلح وزاد اصادق مستدلا.[5]

Arrabbu : diakitkan atas penghulu sekalian alam yang merajai, yang disembah yang menetapkan, yang membaguskan dan menambah lagi mempunyai keadilan.

العالمين : ما سوى الله تعال على موجده لأنه حادث. وكل حادث يحتاج إلى محدث[6].

Al‘alamin : selain daripada Allah yang dijadikannnya semuanya adalah baharu dan setiap yang baharu berhajat kepada yang menjadikan.

العالمين : فهو جمع العالم بفتح اللام. هو يطلق على جميع الموجودات منها كعالم الجماد وعالم النبات وعالم الحيوان وعالم الإنسان و أيضا كعالم العرب و عالم العجم.[7]

Al ‘alamin : dia itu jamak dari kata alam dengan memfatahakan lam, ‘alamun. Dia dikaitkan atas sekalian yang ada telah dijadikan, diantaranya alam pertambangan, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan dan alam manusia, begitu juga bangsa arab dan bangsa lainnya.

العالمين: قال ابن عبس أوالناس هو الإنس والجن و الملإكة والشياطين.( وقال عبيده) اهل الجنة والنار. (وقال عبدالرحمن بن زيد) : الروحانيون, والله أعلم بالصحيح.[8]

Al’alamin : Ibnu Abbas ra berkata atas sebagian manusia yang dimaksud dengan alam adalah diantaranya manusia, jin, malaikat-malailkat, syaitan-syaitan, juga ubaidah berkata termasuk golongan surga dan neraka, dan abdurahman bin zaid,  jiwa-jiwa, Allah lah yang lebih mengetahui dengan benar.

Dari beberapa pegertian yang telah dikemukakan serta dibandingkan atau diintegrasikan antara satu dan lainnya, terlihat bahwa kata tersebut saling menunjang dan saling melengkapi. Selanjutnya seluruh kata-kata tersebut diintegrasikan maka akan diperoleh pengertian, bahwa al-tarbiyah berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi (fisik, intelektual, social, estetika, dan spiritual) yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal, melalui cara memelihara, mengasuh merawat, memperbaiki dan mengaturnya secara terencana, sistematis dan berkelanjutan. Dengan demikian, pada kata al-tarbiyah tersebut mengandung cakupan tujuan pendidikan, ialah menumbuhkan dan mengembagkan potensi; dan proses pendidikan berupa memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengaturnya.

Penjelasan lebih lanjut tentang kata al-tarbiyah dan penggunaannya dapat dijumpai dalam al-quran dan as-sunah sebagai berikut.

Didalam al-quran, kata al-tarbiyah dapat dikemukakan sebagai berikut : al-rabb fi al-ashl al-tarbiyah wa huwa insyau al-syai haalan fahaalan ila had al-tamam. Artinya, pada pengertian awalnnya, tarbiyah adalah menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan.[9]

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji[10] bagi Allah, Tuhan semesta alam[11]. (QS. Al-Fatihah (1): 2)

Kata rabb yang terdapat dalam ayat tersebut dalam al-quran dan terjemahnya terbitan Departemen Agama diartikan sebagai berikut: Rabb (Tuhan) berarti tuhan yang ditaati yang memiliki, mendidik dan memelihara. Kata itu tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabb al-bait (tuan rumah).[12]

Selanjutnya al-Raghib al-ashafaniy ketika menafsirkan ayat 2 surah al-fatihah yang mengandung kata rabb sebagai berikut:

(رب) هُوَ السَيِّد المُرَّبِّى الّذي يَسُوسُ مَنْ يُرَبِّيهِ ويُدَبّرُ شُئونَهُ.

وتربيةُ الله للناس نَوْعَان، تربية خَلْقِيَة تَكُوْنُ بِتَنْمِيَةِ أَجْسَامِهِمْ حَتَّى تَبْلُغَ الأَشَد وَتَنْمِيَةُ قَوَاهُم النَفْسِيَة وَالعَقْلِيَة- وتربية دينية تهذيبية تكون بما يوحيه إلى أفراد منهم ليبلّغوا للناس ما به تكمل عقولهم وتصفو نفوسهم- وليس لغيره أن يشرع للناس عبادة ولا أن يحلّ شيئا ويحرم آخر إلا بإذن منه.

Artinya: rabb adalah tuhan yang mendidik yang memperkuat orang yang dididik dan mengatur keadaan manusia terbagi dua, yaitu pendidikan fisik yang dilakukan dengan cara mengembangkan jasmaninya sehngga mencapai keadaan yang kukuh, dan mengembangkan keadaan jiwa dan akalnya dan pendidikan keagamaan dan budi pekerti yang dilakukan dengan cara menyampaikan ajaran agama kepada setiap orang sehingga sempurna akalnya dan bersih jiwanya, dan tidak boleh kepada siapa pun menyuruh manusia untuk menyembah selain Allah, tidak menghalalkan sesuatu yang haram, dan tidak pula yang mengharamkan yang halah kecuali atas izin-Nya.[13]

Selanjutnya kata al-tarbiyah dijumpai pada surat al-isra’ (17) ayat 24:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Kata rabbaniy pada ayat tersebut dengan jelas diartikan pendidikan, yaitu pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua kepada anaknya. Karena demikian besar arti pendidikan yang diberikan kedua orang tua, maka seorang anak harus menunjukkan sikap hormat dan terima kasih, dengan cara bersikap tawadlu (rendah hati) dan mendo’akan kebaikan bagi keduanya. Sikap anak yang mendoakan kedua orang tua tersebut selanjutnya disebut dengan anak saleh, sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang berbunyi:

“jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak saleh yang mendoakan kepada orang tuanya.” (HR.Muslim)

Kata al-tarbiyah yang berasal dari kata rabb atau rabba di dalam al-Qur’an disebutkan lebih dari delapan ratus kali dan sebagian besar atau bahkan hampir seluruhnya dengan tuhan, yaitu terkadang dihubungkan dengan alam jagat raya (bumi, langit, bulan, bintang, matahari, tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, laut dan sebagainya), dengan manusia seperti pada kata rabbuka (tuhan-mu), rabbukum (tuhanmu sekalian), rabbukuma (tuhan-mu berdua), rabbuna (tuhan kami), rabbuhu (tuhannya), rabbuhum (tuhan mereka semua), dan rabbiy (tuhan-ku).

فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولَا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: “Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam.”

Karena demikian luasnya pengertian al-tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata al-tarbiyah dengan arti pendidikan. Menurutnnya, kata al-tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga manjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia itu tidak memiliki persyaratan potensial, seperti akal, pancaindera, hati nurani, insting dan fitrah yang memungkinkan untuk dididik. Yang memilikik potensi-potensi akal, pancaindera, hati nurani, insting dan fitrah itu hanya manusia.

 

  1. Pengertian Ta’lim

Kata ta’lim yang jamaknya ta’alim, menurut Hans Weher dapat berarti information (pemberitahuan tentang sesuatu), advice (nasihat), instruction (perintah), direction (pengarahan), teaching (pengajaran), training (pelatihan), schooling (pembelajaran), education (pendidikan), dan apprenticeship (pekerjaan sebagai magang), masa belajar suatu keahlian.

Selanjutnya Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al-ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan hal mengajar dan melatih.[14]

Penggunaan kata al-ta’lim dalam al-quran digunakan oleh Allah untuk mengajar nama-nama yang ada di alam jagat raya kepada nabi adam as. Dalam surat al-baqarah ayat 31:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

عَلَّمَ الْقُرْآنَ

Yang telah mengajarkan al Quran (ar-Rahman: 2)

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Mengajarnya pandai berbicara (ar-Rahman: 4)

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66)

Dalam beberapa kitab tafsir kata ‘alama atau makna ta’lim itu adalah sebagai berikut:

الأسماء: اسماءالمسميات.[15]

Al asma’ : sekalian yang dinamakan

كلها : القصعه , القصيعه,القسوة,القسيه,المغرفه. وعلم ادم بان ألقى فى قلبه علمها.

Kullaha : benda yang tebal,tipis, keras, lembut, dan apa yang didalam tanah. Dan Allah mengajarkannya kepada nabi adam as dengan mengilhamkan sekalian ilmu kedalam hatinya.

وعلم فى تفسير البحرالمحيط:

kata ‘alama dalam Tafsir Al Bahrul Muhith adalah :

1.أسماء جميع المخلوقات, ( ابن عباس).

Sekalian nama-nama makhluk (Ibnu Abbas)

  1. اسم ما كان وما يكون الى يوم القيامه, ( عزى ابن عباس).

Nama yang sudah ada dan hingga hari kiamat.

  1. جميع اللغات.

Sekalian nama bahasa

  1. اسماء النجوم فقط,( ابن عباس ومجاهد وقتده).

Sekalian nama bintang-bintang

  1. اسماء الملأىكة فقط,( الربيع بن زياد).

Sekalian nama-nama malaikat

  1. اسماء الذريته والملأيكة,( الطبرى)

Sekalian nama keturunan malaikat

اسماء الأ جناس التى خلقها علمه ان هذا اسمه فرس وهذا اسمه بعير وهذا اسمه كذا وهذا اسمه كذا وعلمه احوالها وما يتعلق بها من المنافع الدينية والدنيوية,(الزمخشرى).

Sekalian nama jenis yang diciptakannya dan mengajarkannya sesungguhnya ini namanya kuda dan ini namanya binatang dan ini namanya seperti ini dan ini namanya seperi ini dan mengajarkannnya kondisi dan apa yang terkait dengannya apa yang bermanfaat bagi agama dan dunia.

  1. ماخلق فى الارض, (ابن قتيبه).

Dan sekalian apa yang terdapat dibumi

  1. اسماء الله عز وجل,  (الحكيم الترمذى).

Dan nama-nama Allah ajja wajala

(الرحمن. علم القراءن.خلق الانسان. علم البيان.)

تفسير (علم) : من شاء, اى, من عباده إنسا وجناوملكا, وقدر بعضهم محمدا أوجبربل.( البيان) : أسماء كل شىء, ما وجد وما لم يوجد يجميع اللغات.[16]   

Tafsir ‘allama : orang yang dikehendaki , artinya daripada hambanya baik bangsa manusia, jin dan malikat-malaikat dan juga ada hubungannya dengan muhammad dan jibril. Al bayan : sekalian nama sesuatu dan yang telah ada dan yang belum ada, sekalian nama bahasa.

 

Dengan demikian, kata al-ta’lim dalam al-qur’an menunjukkan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikamh, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, nama-nama atau symbol-simbol dan rumus-rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu yang terlarang seperti sihir. Ilmu-ilmu baik yang disampikan melalui proses al-ta’lim tersebut dilakukan oleh Allah swt, malaikat dan para nabi. Sedangkan ilmu yang berbahaya diajarkan oleh setan.

Kata al-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat nonformal, seperti majlis taklim yang saat ini sangat berkembang dan variasi, yaitu ada majlis taklim yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu di kanpung, ada majlis taklim di kalangan masyarakat elite, di kantoran, hotel dan kajian keagamaan. Dari segi materinya ada yang secara khusus membahas sebuah kitab tertentu, ada kajian tema-tema tertentu, ada kajian tentang tafsir, hadis, fikih dan sebagainya, dan ada pula yang diserahkan kepada tuan guru. Kata al-ta’lim dalam arti pendidikan sesungguhnnya kata yang lebih dahulu digunakan daripada al-tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengajran yang pertama kali dilakukan oleh nabi Muhammad saw di rumah al-Arqam (Dar al-Arqam) di Mekkah., dapat disebut dengan majlis al-ta’lim. Demikian pula pendidikan yang dilakukan di Indonesia yang dilaksankan oleh para da’I di rumah, mushalah, masjid, surau, langgar, atau tempat tertentu, pada mulanya merupakan kegiatan al-ta’lim. Kegiatan al-ta’lim hingga saat ini masih terus berlangsung di seluruh Indonesia.

Dengan memberikan data dan informasi tersebut, maka dengan jelas, bahwa kata al-ta’lim termasuk kata yang palling tua dan banyak digunakan dalam kegiatan nonformal dengan tekanan uatam pada pemberian wawasan, pengetahuan, atau informasi yang bersifat kognitif. Atas dasar ini, maka arti al-ta’lim lebih pas diartikan pengajaran daripada diartikan pendidikan. Namun, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, maka pengajaran juga termasuk pendidikan.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa kata tarbiyah dan ta’lim memiliki banyak makna dan kandungan yang didapatkan dari kedua  pengertian diatas, sehingga cakupannya lebih dalam dalam pandangan islam tentang pendidikan. Segala teori pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli itu terkandung dalam ajaran islam, jadi sudah terbukti bahwa ajaran islam itu meyeluruh atau universal.

Tarbiyah dan ta’lim meiliki makna yang beragam seperti education (pendidikan), upbringing (pengembangan), teaching (pengajaran), instruction (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising (of animals) (menumbuhkan).  Information (pemberitahuan tentang sesuatu), advice (nasihat), instruction (perintah), direction (pengarahan), teaching (pengajaran), training (pelatihan), schooling (pembelajaran), education (pendidikan), dan apprenticeship (pekerjaan sebagai magang), masa belajar suatu keahlian.

 

  1. SARAN DAN KRITIK

Kami dari penyusun makalah ini mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun agar tercapainya perbaikan-perbaikan yang akan datang pada masa dating, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Atas saran dan kritikannya kami ucapkan terima kasih.

 

 

 

BIBLOGRAFI

 

Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy : Al-Juz Al-Awwal, Beirut: Dar al-Fikr,tp.th.

Al’allama Assyaid Muhammad Husain Atthabathabai, Almizan Fi Tafsir al Quran,Beirut, Lebanon, tp, .th. Juz 15.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakakrta: Departemen Agama RI, 2004

Jalalain, Hasyatu Shawi  Ala Tafsiril Jalalain, Indonesia: tp, th, Juz 1.

Muhammad Bin Yusuf Asysyahid Bi Abi Hayyan Al Andalusi, Fi Tafsir Bahrul Muhith,, Juz 1, Darul Kitab Al ‘Amalliyah, Beirut,Lebanon, Cet 1, 1993

Nata, Abuddin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana,2010. Cet-1.

Yunus, Mahmud, Kamus Arab Indonesia, Jakarta: PT.Mahmud Yunus Wadzurriyyah, 1990.

 

[1] Hans Wehr, Mu’jam al-Lughah akl-Arabiyah al-Mu’ashirah (A Dictionary of modern Written Arabic), (Ed), J.Milton cowan, (Beirut: Librarie Du Liban & London: Macdonald & Evans LTD), 1974), hlm. 324. Dalam Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 7.

[2] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud  Yunus Wadzurriyah, 1990), hlm. 136

[3] Jalalain, Hasyatu Shawi Ala Tafsiril Jalalain, (Indonesia: tp,th,) Juz 1,hlm.15.

[4] Al’allama Assyaid Muhammad Husain Atthabathabai, Almizan Fi Tafsir al Quran,( beirut, lebanon, tp, .th). juz 15, ,hlm.24.

[5] Muhammad Bin Yusuf Asysyahid Bi Abi Hayyan Al Andalusi, Fi Tafsir Bahrul Muhith, (Beirut,Lebanon: Daruk Kitab Al ‘Amalliyah, 1993) Juz 1 , Cet 1,hlm.130.

[6] Jalalain, op.cit, hlm. 15.

[7] Opcit,

[8] Muhammad Bin Yusuf Asysyahid Bi Abi Hayyan Al Andalusi, Fi Tafsir Bahrul Muhith,, Juz 1, Darul Kitab Al ‘Amalliyah, Beirut,Lebanon, Cet 1, 1993.hlm.130

[9] Al-Raghib al-Ashafani, Mu’jam Mufradat Afaadz Al-Quran, (Beirut: Dar Al-Fikr,tp.th),hlm.189.

[10] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

[11]  Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.

[12] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakakrta: Departemen Agama RI, 2004), pembukaan.

[13] Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy : Al-Juz Al-Awwal, (Beirut: Dar al-Fikr,tp.th.),hlm.30.

[14] Mahmud Yunus, op.cit,hlm,278.

[15] Jalalain,op.cit.hlm.41.

[16] Jalalain,op.cit.

IMPERIUM UMAYAH DI SPANYOL (Masuknya Islam ke Barat: Berdiri dan Perkembangannya)

IMPERIUM UMAYAH DI SPANYOL

(Masuknya Islam ke Barat: Berdiri dan Perkembangannya)

Disusun Oleh

Zaenal Muttaqin

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM TRI BAKTI

KEDIRI

2015

 

 

BAB I

  1. PENDAHULUAN

Ketika periode klasik Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa mulai bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan Eropa bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan mereka mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi kemajuan mereka terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan dalam bidang inilah yang mendukung keberhasilan politiknya. Dalam catatan sejarah Islam, kemajuan-kamajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol.

Dari Spanyol Islamlah, Eropa banyak menimba ilmu, karena ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di Spanyol Islam. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa, karena itu kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.[1]

Dengan demikian, menarik bagi penulis untuk memaparkan sejarah masuknya Islam ke Spanyol yang menjadi gerbang menuju Eropa serta perkembangannya.

  1. Rumusan Masalah
    1. Bagaimana Islam Masuk Ke Spanyol?
    2. Bagaimana Perkembangan Islam di Spanyol?
    3. Bagaimana Analisis Islam pada masa daulah Umayah di Spanyol?
  2. Tujuan
    1. Untuk mendiskripsikan Proses Masuknya Islam Ke Spanyol
    2. Untuk mendiskripsikan Perkembangan Islam di Spanyol
    3. Untuk mengetahui analisis islam pada masa daulah Umayah di Spanyol

 

 

BAB II

KERANGKA TEORI

Suksesi awal Mujahid Islam di Spanyol seperti Thariq dan Musa ialah berhasil menguasai daerah: granada, Cordova, Tolledo, Seville, Saragossa dan Barcelona.

Hubungan perkembangan teknologi dan pengetahuan moderen akan menghantarkan analisa kita pada masa keemasan umat Muslim yang sempat berkuasa di al-Andalusia. pada makalah ini, penulis membawa pemaparan analisis pada masa daulah Ummayah di Spanyol dilihat dari teori konflik.

  1. Definisi Konflik

Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.

Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.

Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).

Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat

  1. Teori-Teori Konflik
  2. KONFLIK MENURUT LEWIS A. COSER

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan struktur dan juga konsensus.

  1. Konflik dan Solidaritas

Konflik adalah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan yang berkenaan dengan status, kuasa dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi. Konflik dapat terjadi antar individu, antar kelompok dan antar individu dengan kelompok. Baginya konflik dengan luar dapat menyebabkan mantapnya batas-batas struktural, akan tetapi di lain pihak konflik dengan luar akan dapat memperkuat integrasi dalam kelompok yang bersangkutan.

Konflik antara suatu kelompok dengan kelompok lain dapat menyebabkan solidaritas anggota kelompok dan integrasi meningkat, dan berusaha agar anggota-anggota jangan sampai pecah. Akan tetapi, tidaklah demikian halnya apabila suatu kelompok tidak lagi merasa terancam oleh kelompok lain maka solidaritas kelompok akan mengendor, dan gejala kemungkinan adanya perbedaan dalam kelompok akan tampak. Di sisi lain, apabila suatu kelompok selalu mendapat ancaman dari kelompok lain maka dapat menyebabkan tumbuh dan meningkatnya solidaritas anggota-anggota kelompok.

  1. Konflik dan Solidaritas Kelompok

Konflik internal menguntungkan kelompok secara positif. la menyadari bahwa dalam relasi-relasi sosial terkandung antagonisme, ketegangan atau perasaan-perasaan negatif termasuk untuk relasi-relasi kelompok dalam yang di dalamnya terkandung relasi-relasi intim yang lebih bersifat parsial. Perlu diketahui bahwa semakin dekat hubungan akan semakin sulit rasa permusuhan itu diungkapkan. tetapi semakin lama perasaan ditekan maka pada saat konflik meledak, mungkin akan sangat keras.

Konflik akan senantiasa ada sejauh masyarakat itu masih mempunyai dinamikanya. Adapun yang menyebabkan timbulnya konflik, yaitu karena adanya perbedaan-perbedaan, apakah itu perbedaan kemampuan, tujuan, kepentingan, paham, nilai, dan norma. Di samping itu, konflik juga akan terjadi apabila para anggota kelompok dalam (in group) terdapat perbedaan.

Perlu diketahui bahwa suatu kelompok yang sering terlibat dalam suatu konflik terbuka, hal tersebut sesungguhnya memiliki solidaritas yang lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok yang tidak terlibat konflik sama sekali.

  1. Konsekuensi Konflik

Konflik merupakan suatu fenomena kemasyarakatan yang senantiasa ada dalam kehidupan bersama. Sebenarnya konflik tidak usah dilenyapkan, akan tetapi perlu dikendalikan konflik akan senantiasa ada di masyarakat, hal tersebut karena dalam masyarakat itu terdapat otoritas. Hal tersebut dikandung maksud bahwa apabila di suatu pihak bertambah otoritasnya maka di lain pihak akan berkurang otoritasnya. Selain itu juga karena adanya perbedaan kepentingan antara kelompok satu dengan kelompok yang lain.

Konflik dapat dikendalikan apabila kelompok yang terlibat dalam konflik dapat menyadari adanya konflik, dan perlu dilaksanakannya prinsip-prinsip keadilan. Di samping itu juga harus terorganisasi secara baik terutama yang menyangkut semua kekuatan sosial yang bertentangan. Dalam hal ini, apabila upaya pengendalian konflik itu tidak dilakukan maka konflik yang tertekan yang tidak tampak di permukaan, dapat meledak sewaktu-waktu dan merupakan tindakan kekerasan. Konflik yang tertekan dapat menyebabkan putusnya hubungan, dan apabila emosionalnya meninggi maka putusnya hubungan tersebut dapat meledak secara tiba-tiba. Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka perlu dibentuk saluran alternatif sehingga rasa dan sikap pertentangan dapat dikemukakan dengan tidak merusak solidaritas.

  1. Teori Konflik Ralf Dohrendorf

Konsep kekuasaan dan otoritasnya. kekuasaan diartikan sebagai kemampuan untuk memaksakan kemauan seseorang meskipun mendapat perlawanan. sedangkan otoritas diartikan sebagai hak yang sah untuk mengharapkan kepatuhan. dalam konsep otoritas disebutkan bahwa yang menjalankan otoritas dan yang tunduk pada otoritas tersebut mempunyai kepentingan yang bertentangan sehingga orang yang menyadari akan kepentingan kelasnya dan membentuk kelompok konflik kelas untuk mengubah struktur otoritas tersebut. otoritas tidak terletak dalam diri seseorang melainkan pada posisi.

Kelompok dalam masyarakat tidak pernah berada dalam posisi ideal sehingga selalu ada factor yang mempengaruhi terjadinya konflik sosial.

Berkaitan dengan perubahan, Dahrendorf mengatakan bahwa konflik akan menyebabkan perubahan dan perkembangan. Setelah konflik selesai, anggota masyarakat akan melakukan perubahan dalam struktur sosial. Jika konflik yang terjadi sangat besar akan menyebabkan perubahan yang radikal dan bila konflik disertai tindak kekerasan akan menyebabkan perubahan struktur yang tiba-tiba.

  1. KONFLIK MENURUT KARL MARX

Para materialis memandang sejarah dimulai dari premis bahwa penentu paling penting dari kehidupan sosial adalah pekerjaan yang dilakukan orang, terutama pekerjaan yang menghasilkan penyediaan kebutuhan dasar kehidupan, sandang, dan papan.

Menurut Marx sejarah dibagi menjadi beberapa tahap, sesuai dengan pola yang luas dalam struktur ekonomi masyarakat.

Tahapan yang paling penting untuk argumen Marx adalah feodalisme, kapitalisme , dan sosialisme.

Tahap pembangunan ekonomi dan sosial yang Marx lihat sebagai dominan di Eropa abad 19. Untuk Marx, lembaga sentral dari masyarakat kapitalis adalah milik pribadi, sistem dengan mana modal dikendalikan oleh minoritas kecil dari populasi. Susunan ini menyebabkan dua kelas menentang, para pemilik modal (disebut kaum borjuis) dan pekerja (disebut kaum proletar)

Marx percaya bahwa setiap panggung sejarah berdasarkan pengaturan ekonomi eksploitatif yang dihasilkan dalam dirinya benih-benih kehancurannya sendiri. Hubungan Kelas kapitalisme mewujudkan kontradiksi kapitalis membutuhkan tenaga kerja, dan sebaliknya, tetapi kepentingan ekonomi kedua kelompok secara mendasar bertentangan.

Kaum Marxis percaya bahwa teori sosial dan praktek politik yang terjalin secara dialektis, dengan teori ditingkatkan dengan keterlibatan politik dan dengan praktek politik selalu dipandu oleh teori

BAB III

PEMAPARAN MATERI

 

  1. Masuknya Islam ke Spanyol

Spanyol diduduki Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman khalifah ‘Abdul Malik (685-705 M). Khalifah ‘Abdul Malik mengangkat Hasan ibn Nu‘man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu‘man digantikan oleh Musa ibn Nusair. beliau memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Moroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan kekuasaan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.[2]

Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu propinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H [masa pemerintahan Mu‘awiyah ibn Abi Sufyan] sampai tahun 83 H [masa al-Walid].[3]

Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum Muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.

Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan pasukan-pasukan kesana. Mereka adalah Tarif ibn Malik, Tariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nusair.

Tarif ibn malik dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyebrangi selat yang berada di antara Morokko dan benua Eropa itu dengan pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka memiliki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tarif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tarif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nusair pada tahun 711 M mengirim pasukan Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Tariq ibn Ziyad.[4]

Tariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibn Nusair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyebrangi Selat di bawah pimpinan Tariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Tariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar [Jabal Tariq].[5]

Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Tariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo [ibu kota kerajaan Goth saat itu].[6]

Sebelum Tariq menaklukan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nusair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Tariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.[7]

Kemenangan pertama yang dicapai oleh Tariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Musa ibn Nusair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Tariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyebrangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukannya. Setelah Musa berhasil menaklukan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Tariq di toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.[8]

Gelombang perluasan berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abd al-‘Aziz tahun 99 H / 717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada ‘Abd al-Rahman ibn ‘Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordesu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, di antara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.

Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah. Majorka, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Silica juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah.[9] Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 m ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.

Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan. Yang menjadi faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat didalam negeri Spanyol itu sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi kedalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, palagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal. Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Didalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Ameer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika [Timur dan Barat] menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat.[10] Akibat perlakuan keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M.[11]

Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol berada di bawah pemerintahan Romawi, berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun.

Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Maka dapat dikatakan, bahwa kondisi ini merupakan awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tariq dan Musa. Hal yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.[12]

Adapun faktor internalnya adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri.[13] Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong-menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.[14]

  1. Perkembangan Islam di Spanyol

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:

  1. Periode Pertama [711-755 M]

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi duapuluh kali pergantian wali [gubernur] Spanyol dalam jangka waktuyang amat singkat.[15]

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al- Rahman Al- Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H / 755 M.[16]

  1. Periode Kedua [755-912 M]

Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir [panglima atau gubernur] tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H / 755 M dan diberi gelar Al-Dakhil [Yang Masuk ke Spanyol]. Dia adalah keturunan Bani Umayah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukan Bani Umayah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayah di Spanyol.

Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abd al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman al-Ausat} dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.[17] Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al Ausat. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak. Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan [Martyrdom].[18]

  1. Periode Ketiga [912-1013 M ]

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok“ yang dikenal dengan sebutan Muluk al-T{awa>if. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abd al-Rahman al-Nas}ir [912-961 M], Hakam II [961-976 M] dan Hisyam II [976-1009 M]).

Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd al-Rahman al Nas}ir mendirikan universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran.[19]

  1. Periode Keempat [1013-1086 M]

Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja kristen.[20]

  1. Periode Kelima [1086-1248 M]

Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang didominasi, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun [1086-1143 M] dan dinasti Muwahhidun [1146-1235 M]. Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 m ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy.[21]

  1. Periode Keenam [1248-1492 M]

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar [1232-1492]. Peradaban Islam kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi, secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini juga berakhir, karena perselisihan kalangan istana dalam perebutan kekuasaan.[22]

BAB III

ANALISIS KRITIS

Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan. Yang menjadi faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat didalam negeri Spanyol itu sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi kedalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, palagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal. Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Didalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Ameer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika [Timur dan Barat] menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat.[23] Akibat perlakuan keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M.[24]

Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol berada di bawah pemerintahan Romawi, berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun.

Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Maka dapat dikatakan, bahwa kondisi ini merupakan awal kehancuran kerajaan Goth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tariq dan Musa. Hal yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.[25]

Adapun faktor internalnya adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri.[26] Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong-menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.[27]

 

 

Daftar Pustaka

Abel, Armand, “Spanyol: Perpecahan dalam Negeri”, dalam Gustav E. von Grunebaum [Ed], Islam: Kesatuan dan Keragaman, Jakarta: Yayasan Perkhidmatan, 1983

Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, 2009

Arnold, Thomas W., Sejarah Da’wah Islam, Jakarta: Wijaya, 1983

Fakhri, Majid, Sejarah Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986

Hasan, Hasan Ibrahim, Ta>rikh al-Isla>m al-Sitasi wa al-Di>ni wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima>‘i, Kairo: Maktabah al-Nahd}ah al-Mis}riyah, tt.

Hatti, Philip K., History of the Arabs, London: Macmillan Press, 1970

Nasution, Harun, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid I, Cet. Kelima, Jakarta: UII Press, 1985

Rofiq, Ahmad Choirul, Sejarah Peradaban Islam (Dari Masa Klasik Hingga Modern), Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2009

Spuler, Bertold, The Muslim World: A Historical Survey, Leiden: E.J. Brill, 1960

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008

Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Cet. Pertama, Jakarta: Pustaka Alhusna, 1983

________, Mausu>’ah al-Ta>rikh al-Isla>mi wa al-Had}arah al-Islamiyah, Jilid 4, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Maishriyah, 1979

Wassenstein, David, Politics and Society in Islamic Spain: 1002-1086, New Jersey: Prenceton University Press, 1985

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999

 

 

[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1999), 87

[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), 161-162

[3] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2, Cet. Pertama, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1983), 154.

[4] Philip K. Hatti, History of the Arabs, (London: Macmillan Press, 1970), 493

[5] Amin, Sejarah Peradaban, 163

[6] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008), 118

[7] Amin, Sejarah Peradaban, 164

[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban…., 90.

[9] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid I, Cet. Kelima, (Jakarta: UII Press, 1985), 62.

[10] Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, (Jakarta: Wijaya, 1983), 118.

[11] Armand Abel, “Spanyol: Perpecahan dalam Negeri”, dalam Gustav E. von Grunebaum [Ed], Islam: Kesatuan dan Keragaman, (Jakarta: Yayasan Perkhidmatan, 1983), 243

[12] Amin, Sejarah Peradaban, 167

[13] Arnold, Sejarah Dakwah, 125.

[14] Ibid. 120.

[15] David Wassenstein, Politics and Society in Islamic Spain: 1002-1086, (New Jersey: Prenceton University Press, 1985), 15-16

[16] Badri Yatim, Sejarah Peradaban, 94.

[17] Ahmad Syalabi, Mausu’ah al-Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyah, Jilid 4, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Maishriyah, 1979), 41-50.

[18] Badri Yatim, Sejarah Peradaban, , 95.

[19] Amin, Sejarah Peradaban, 169

[20] Ibid.

[21] Ibid., 170

[22] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), 82.

[23] Thomas W. Arnold, Sejarah Da’wah Islam, (Jakarta: Wijaya, 1983), 118.

[24] Armand Abel, “Spanyol: Perpecahan dalam Negeri”, dalam Gustav E. von Grunebaum [Ed], Islam: Kesatuan dan Keragaman, (Jakarta: Yayasan Perkhidmatan, 1983), 243

[25] Amin, Sejarah Peradaban, 167

[26] Arnold, Sejarah Dakwah, 125.

[27] Ibid. 120.