Sejarah Islam di Spanyol

PENDAHULUAN

Islam sebagai kekuatan politik memasuki daratan afrika berawal semenjak pemerintahan khalifah Umar ibn al-Khattab dapat menguasai mesir. Kemudian pada masa pemarintahan Uthman ibn Affan, tapatnya tahun 35 H, kekuasaan isalam sampai tripoli, Tania, bahkan mencapai kawasan Tunisia. Proses persaingan kekuasaan Isalam sempat terhanti berkenaan dengan terbunuhnya Uthman ibn Affan pada 36 H. Ketika Mu’awiyah berkuasa penuh di damaskus, reorganisasi pemerintahan terus diusahakan, termasuk kelanjutan perluasan kekuasaan islam di daratan tanah nMahgribi. Dengan diangkatnya ‘Amr ibn ‘Ash sebagai gubernur Masir, maka kebijaksanaan memperluas wilayah kekuasaan islam dihidupkan kembali. Pada 50 H, sebuah kawasan( yang akhirnya dikenal dengan nama Qayrawan ) yang terletak di wilayah Afrika Utara dapat dikuasai oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Uqbah ibn Nafi’.

Uqbah ibn Nafi’ selanjutnya membangun pemukiman baru bagi kaum muslimin. Bahkan kawasan tersebut dijadikan garnisun yang berfungsi sebagai pusat kegiatan atministrasi pemerintahan, pertahanan dan kegiatan keagamaan. Setelah semuanya dapat dikuasai, dia membangun masjid Qayrawan sebagai pusat pendidikan. Namun demikian, laju perkembangan islam di Afrika tidan senantiasa berjalan bersamaan dengan perkembangan kekuasaan islam. Ketika Dinasti Abbasiyah, Fatimiyah dan Umawiyah mengalami kemunduran, maka gerak dakwah islam yang ada di Afrika Utara berubah menjadi gerakan politik yang akhirnya mewujudkan dinasti Murabhithun (448-541 H) dan Muwahhidun (1125-1269 H) begitu pula terjadi terjadi perubahan kekhalifahan menjadi dinasti di kawasan Spanyol.

ISLAM DI SPANYOL

DI BAWAH KEKUASAANAL-MULUK  AL-TAWAIF

Perpindahan keKhalifahan di Andalusia(spanyol) menjadi Dinasti dilatarbelakangi perebutan kekuasaan. Dinasti Umawiyah Akhirnya runtuh ketika Khalifah Hisyam III ibn Muhammad III yang bergelar al-Mu’tadd (1027-1031) disingkirkan oleh kelompok angkatan bersenjata. Para pemuka penduduk Cordova[1] segara meminta Umayyah ibn ‘Abd al-Rahman agar bersedia menduduki jabatan negara tertinggi tersebut, karena harus bersembunyi untuk meloloskan diri dari bahaya yang mengancam dirinya. Menyaksikan keadaan demikian, Wazir Abu al-Hazm ibn Jawhar mengumumkan penghapusan khilafah untuk selamanya karena dianggap tidak lagi ada orang yang layak memegang jabatan tersebut. Ketika dinasti Bani Umayyah hanya tinggal puing-puing kehancuran, sejarah andalusia memasuki epesode baru dengan tampilnya kepemimpinan MULUK AL-TAWAIF[2] atau TAIFAS yang berarti raja-raja golongan pada 1031.

 

Setelah kekuasaan islam terlepas dari pemarintahan Bani Umayyah dan pindah ke Muluk al-Tawaif, kondisi umat islam di spanyol kembali mengalami pertikaian internal. Ironisnya, setiap ada perang saudara, ada yang maminta bantuan dari raja-raja Kristen, sehingga orang kristen mulai mengambil inisiatif penyerangan.

Selanjutnya  umat islam di spanyol berada di bawah kekuasaan Dinasti Murabithun, Muwahhidun dan Bani ahmar atau Nashriyah. Ketika kekuasaan Bani Ahmar inilah pasukan kristen yang dipimpin Ferdinand dan Isabella berhasil menaklukkan umat islam pada tahun 1492 yang menandai berahirnya kekuasaan islam di tanah spanyol atau andalusia[3].

A.Dinasti Murabithun ( 1086-1248 )

1.Sejarah berdirinya Dinasti Murabithun

Secara kronologis, berdirinya gerakan Murabithun diawali ketika seorang pemimpin suku lamtunah bernama Yahya ibn Ibrahim al-Jaddali melakukan ibadah haji ke tanah suci. Akibat perjalanan itu, dia menyadari akan perlunya suatu perbaikan dalam bidang agama bagi rakyatnya dalam perjalanan pulang. Di suatu tempat yang bernama nafis, dia bertemu dengan seorang guru sufi yang bernama Abd Allah ibn Yasin al-Jazuli[4]. Dalam keterangan lain disebutkan bahwa dalam perjalanan pulang haji, Yahya bertemu dengan seorang alim yang bermadzhab Maliki yang bernama Abu Imran al-Fasi, dan atas petunjuknya Yahya mendapat guru dari Madzhab Maliki bernama Abd Allah ibn Yasin al-Jazuli, dan selanjutnya Yahya memohon Ibn Yasin untuk bersedia mengajarkan agama yang benar kepada rakyatnya, orang-orang dari suku Lamtunah.

Dakwah yang disampaikan Ibn Yasin kurang mendapat sambutan dan hanya diikuti tujuh atau delapan orang saja, dua diantaranya adalah kepala suku Lamtunah bernama Yahya ibn Umar dan adiknya bernama Abu Bakr Ibn Umar. Oleh  sebab iti, Ibn Yasin mengajak pengikutnya kesebuah pulau di sinegal dan di sana mereka mendirikan ribath[5].Di sinilah awal penamaan Murabithah, dan pengikutnya disebut Murabithun yang mempunyai pengikut dalam komunitas keagamaan.

Ketika jumlah mereka mencapai seribu orang, Ibn Yasin mulai memerintahkan untuk menyiarkan agama keluar ribath dan memberantas segala bentuk penyelewengan individu maupun penyelewengan penguasa yang memungut pajak terlalu tinggi. Dalam waktu sepuluh tahun jumlah pengikut Murabithun meningkat tajam, sehingga komunitas mereka menjadi gerakan politik yang menjadi gerakan jihad. Dengan diangkatnya Yahya Ibn Umar sebagai panglima militer, suku-suku bangsa di sahara ditaklukkan hingga ke daerah Wadi Dar’ah.

Setelah Yahya ibn Ibrahim al-Jaddali wafat pada 1056, kepemimpinan dipegang oleh ibn Yasin sendiri[6]. Abdullah Ibn Yasin dan pengikutnya(Murabithun) kemudian mengadakan penyerangan terhadap suku Berber lainnya yang mereka anggap sesat. Di bawah komando panglima Abu Bakar bin umar, suku Berber di sahara dan Maroko mereka serang, dan dalam pertempuran itu Ibn Yasin meninggal dunia (1059 M). Abu Bakar bin umar  selanjutnya memimpin gerakan ini hingga ia memindahkan ibu kota kekuasaannya dari kota kecil di sahara ke Marakisy[7] pada 1070 M[8] dan gerakan itu juga dipimpin yusuf Ibn Tasyufin[9].

Tatkala terjadi pertikaian diantara suku-suku yang ditinggalkannya di bagian selatan, kedua pemimpin itu berpisa(Abu Bakar bin umar dan yusuf Ibn Tasyufin). Abu bakar kembali ke sahara untuk mengambil keamanan dan ketertiban, sedangkan kemenakannya yusuf Ibn Tasyufin, melanjutkan upaya penaklukan ke wilayah utara.

Ketika Abu Bakar mendengar yusuf Ibn Tasyufin berhasil menguasai seluruh tanah Maghribi, dia kembali ke utara untuk mengambil kendali Murabithun. Akan tetapi, yusuf Ibn Tasyufin atas saran istrinya, Zaynab, hanya memberikan Abu Bakar limpahan hadiah tanpa menyinggung kepemimpinan Murabithun. Selanjutnya Abu Bakar kembali ke gurun sahara, kemudian melanjutkan ke Sudan hingga dia meninggal di sana pada 1087 M.

Sepeninggal Abu Bakar, yusuf Ibn Tasyufin membangun kota Marrakesh untuk di jadikan pusat pemerintahan, sementara upaya penaklukan terus dilakukan. Pada 1070 dia menguasai Fes. Delapan tahun kemudian menguasai Tangier. Selanjutnya, pada 1080-1082 meluaskan kekuasaan ke daerah Algeria, sehingga wilayah murabithun terbentang  dari pantai Afrika Utara sampai ke sinegal.

2.Kemajuan Dinasti Murabithun

Dinasti Murabithun mngalami kemajuan ketika di bawah pimpinan Yusuf Ibn Tasyfin, atas prestasi itu, Yusuf Ibn Tasyfin dimintai bantuan oleh Al-Mu’tamid, penguasa Bani Abbas di Sevella[10] yang sedang terancam oleh kekuasaan Kristen, untuk menghadapi Al-Fonso VI. Akhirnya pertempuran terjadi di Al-Zallaqah pada 1086 M, dan Yusuf Ibn Tasyfin berhasil mengalahkan Al-Fonso VI, sekitar 20.000 pasukan musuh dibunuh dengan keji, merasa berpengalaman dan berhasil menghadapi musuh di Eropa, Yusuf Ibn Tasyfin dengan pasukannya kembali ke Eropa lagi pada 1090 M. Mereka bisa menguasai Granada[11], Sevilla, dan kota-kota penting lainnya. Dengan demikian, Yusuf Ibn Tasyfin berhasil menguasai kerajaan muslim di Eropa kecuali Toledo[12].

Atas keberhasilannya itu, Dinasti Murabithun kemudian mendaulat diri sebagai sebagai dinasti yang otonom di mana penguasanya diberi gelar Amir al-Muslimin, namun masalah otoritas keagamaan, Murabithun masih tetep mengakui kekuasaan tertinggi pada Bani Abbas di Baghdad.

Kemajuan Dinasti Murabithun tidak hanya perluasan wilayah, tetapi juga pada bidang yang lain, masjid dan istana megah di bangun di Marakisy. Selain itu di bangun masjid Ja’i Tlemsan, masji Qairuwan di Fes, masjid agung Al-Jazair, dan lainnya. Keindahan dan keramaian kota Marakisy menarik kalangan luar memasuki ibu kota. Para seniman, sastrawan, penyair, arsitek bangunan, pedagang dan pengrajin berdatangan.

Kegemilangan Yusuf Ibn Tasyfin itu tidak begitu lama, karena pada 1107 dia wafat. Kemudian dia mewariskan kekuasaannya pada putranya bernama Ali ibn Yusuf berupa imperium yang sangat luas, mulai dari wilayah Maghrib, sebagian Afrika Utara hingga Spanyol Islam yang membentang ke utara sampai ke praha. Akan tetapi Ali tidak secakap ayahnya, kendati demikian Ali sering memimpin pasukan berjihat melawan Kristen yang belum dikuasai[13].

Menurut sejarah, pemimpin Dinasti Murabithun berjumlah enam orang, empat yang pertama berhasil mengantarkan Dinasti Murabithun pada perkambangan dan kemajuan. Mereka adalah Abdullah bin Yasin, Abu Bakar bin Umar, Yusuf ibn Tasyfin dan Ali bin Yusuf. Sedang dua orang Amir berikutnya, Ibrahim Ibn Tasyfin dan Ishak Ibn Tasyfin tidak mampu mempertahankan kamajuan Dinasti Murabithun[14].

3.Kemunduran Dinasti Murabithun

Sebenarnya tanda-tanda kemunduran Dinasti Murabithun mulai tampak sejak kepemimpinan Ali ibn yusuf , karena dia lebih berminat dalam bidang keagamaan, hingga pada masanya Ulama’ memperoleh kedudukan tinggi dan sangat berpengaruh pada pemerintahan serta bersikap keras terhadap penduduk yang bukan Islam. Lebih dari itu orang Yahudi di Spanyol dipaksa membayar pajak lebih tinggi, dengan dalih agar mereka dapat menjalankan agamanya dengan bebas, begitu pula di Alami orang-orang kristen. Oleh karena itu mereka merasa senang tatkala tentara kristen akan membebaskannya dari tekanan Islam.

Ali sebagai pemimpin pemarintahan mulai tidak peduli dengan urusan negara, dia mulai berpuasa di siang hari dan malamnya bermujahadah,sikapnya lebih menampakkan kezuhudan, dan dia terpangaruh tokoh-tokoh fikih saat itu, hingga dia bagaikan boneka mainan.

Kondisi demikian berpengaruh dengan adanya kecenderungan para Fuqoha’ yang mengkafirkan orang lain dan menumpuk harta, sampai mereka berani mengkafirkan Imam al-Ghozali. Yang lebih ekstrim lagi mereka mengeluarkan fatwa agar membakar kitab Al-ghozali, khususnya Ihya’ al-Ulum al-Din. Tindakan tersebur di dasarkan pada anggapan bahwa dalam kitab tersebut sebagian besar membahas ilmu kalam. Atas dasar itu para pejabat negara di arahkan agar dalam mengambil kebijakan harus berlandaskan pendapat dan fatwa Fuqoha’.

Dalam kondisi yang begitu buruk, pada 1118 M kota Saragossa jatuh ketangan Alfonso, raja arogan. Raja ini memperluas pengaruhnya hingga ke sepanyol selatan dengan melakukan ekspedisi militer pada 1125-1126. Ketika Ali ibn yusuf meninggal pada 1143, kekuasaan di wariskan pada puteranya, Ibrahim ibn Tasyfin yang kurang cakap seperti ayahnya.

Pada pemarintahan Ibrahim ibn Tasyfin, terjadi dua pemberontakan, yakni tahun 1144 dan 1145. Pada tahun ini Ibrahim ibn Tasyfin meninggal, dan digantikan saudaranya Ishaq Ibn Tasyfin. Bersamaan dengan itu, muncul gerakan Muwahhidun yang berhasil merebut kota Marrakesh dari pada 1147, gerakan Muwahhidun berhasil melumpuhkan Murabithun, sekaligus membunuh Ishaq Ibn Tasyfin. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Murabithun di Afrika Utara dan di gantikan Dinasti Muwahhidun[15].

B. Dinasti Muwahhidun (1146-1235 M )

1. Sejarah berdirinya Dinasti Muwahhidun

Nama Al-Muwahhidun yang berarti “orang-orang yang mengEsakan “ dinisbatkan pada kelompok gerakan yang mendasari lahirnya dinasti ini. Yakni mereka berpendapat Allah adalah Esa(ahad), tidak bisa digambarkan secara fisik sebagaimana kelompok mujassimin yang meyakini bahwa tuhan itu memiliki anggota badan seperti manusia(antropomorphisme). Menurut pelopor Muwahhidun, kelompok mujassimin ini yakni penguasa Murabithun, dianggap kafir. Menurut analisis C.E.Boswort (1993: 52-53), Al-Muwahhidun lahir untuk memprotes Madzhab Maliki yang kaku, berkat dakwah Murabithun. Dan muncul sebagai respon terhadap perkembangan sosial yang rusak pada akhir kekuasaan Murabithun.

Kemunculan Al-Muwahhidun, bermula dari gerakan dakwah seperti Murabithun yang beralih menjadi gerakan politik dan reformasi sosial. Perbedaan keduanya adalah Al-Muwahhidun diwarnai pemikiran teologi( ilmu kalam ) sedang Murabithun Al-Muwahhidun diwarnai pemikiran fiqhiyah Malikiyah.

Gerakan dakwah Al-Muwahhidun ini dipelopori oleh Muhammad ibn Tumart, yang kemudian bergelar Al-Mahdi. Ia berasal dari kabilah Masmudah, Berber, suku Hargah di wilayah Sus Maghrib al-Aqsa. Dia adalah ulama’ besar yang pernah berguru di berbagai pusat ilmu pengetahuan, Spanyol dan Baghdad. Di suatu ketika ia di undang oleh Ali ibn Tasyfin(penguasa Murabithun), untuk berdebat dengan para fuqoha’ , yang berakhir ia di usir dari negerinya.

Di tempat yang baru, Aghmat, ia banyak menarik banyak pengikut, kemudian ia memperbaiki organisasinya dengan menyusun sebuah buku tauhid, dan struktur organisasi yang membagi pengikutnya menjadi empat belas kelompok, yang masing-masing punya tugas khusus. Muhammad ibn Tumart dan para pengikutnya meneruskan dakwah ke Afrika Utara bagian barat seperti Sinegal, Ghana dan nigeria. Dalam dakwahnya mereka banyak menyerang penguasa Murabithun karena dlolim dan tidak wajib di taati, bahkan dilawan. Dan menurutnya, jika keadaan sosial semakin memburuk, maka mereka membutuhkan kedatangan Al-Mahdi( sang penyelamat yang di tunggu-tunggu), untuk itu Muhammad ibn Tumart mengklaim sebagai Al-Mahdi tersebut[16].

2.Kemajuan  Dinasti Muwahhidun

Setelah merasa kuat dengan doktrin amar ma’ruf nahi munkar, Muhammad ibn Tumart mengadakan serangan ke ibu kota Murabithun di Marakisy, tetapi tidak berhasil. Dan selang beberapa waktu ia sakit dan meninggal dunia setelah mewasiatkan kepemimpinannya pada Abdul mu’min. Selanjutnya Abdul mu’min menerusakan pereluasan dakwah dan politik ke Tilimsan(1147 M), Fes, Cauta, Tangier, dan Aghmat. Marakisy di kepung lagi dan akhirnya dapat dijatuhkan. Kenudian ke Spanyol dan dapat menguasai sebagian wilayahnya. Ia melanjutkan perjalanannya ke Al-Jazair (1152 M), Tunisia(1158), dan Libia(1160 M), sejak inilah gerakan dakwah beralih menjadi politik.

Dinasti Muwahhidun berkuasa selama kurang lebih 122 tahun, di pimpin oleh 14 sultan. Mulai Abdul mu’min (1130-1163 M ) sampai Al-Wasiq (1266-1269 M ). Karena wilayah Dinasti Muwahhidun berdekatan dengan Spanyol, maka Afrika utara dapat lebih mudah berhubungan dengan Spanyol. Dinasti Muwahhidun mulai menerima peradaban peradaban negara tetangga, menara masjid yang di bangun Sultan Yusuf Ya’kub tidak tertandingi indahnya, kota Rabbat di maroko di perluas, dan rumah sakit di bangun, perekonomian pertanian maju, hasil pertanian dan industri diekspor sampai ke Asia Tengah dan India, serta membuat alat pencetak uang segi empat berukir.

Di dalam ilmu pengetahuan, lahirlah para ilmuan dengan karyanya, filosuf besar seperti Ibn Rusd, Musa bin Maimun dan Ibn Tufail. Di sampaing filosuf Ibn Rusd juga di kenal ahli fiqh dan kedokteran, ia mengarang Tahafut-tahafut dan Bidayah al-Mujtahid . Dalam bidang tasawuf lahir Ibn Arabi dan Ibn Qasie. Dan dalam saintis Muslim lahir Al-Baitar ahli obat-obatan, dan Ibn al-awan ahli pertanian[17].

3. kemunduran Dinasti Muwahhidun

Kemunduran Dinasti Muwahhidun disebabkan antara lain karena luasnya wilayah kekuasaan, semantara penduduk sangat majmuk yang terdiri dari bangsa Barbar yang terkenal dengan sikapnya yang keras dan bengis. Wilayah yang luas ini, khususnya di wilayah Spanyol yang sulit di kontrol pemerintah pusat, sehingga akhirnya mudah di kuasai tentara Kristen yang mengalami kebangkitan politik.

Adapun penyebab yang menjadikan Dinasti Muwahhidun mengalami kehancuran adalah timbulnya berbagai pemberontakan di Afrika Utara yang menuntut kemerdekaan, seperti Bani Tilimsan. Namun yang langsung nerdampak adalah pemberontakan yang dilancarkan Bani Marin yang berhasil merebut Marakesh. Maka semua wilayah di Afrika Utara direbut Bani Marin, sedangkan wilayah di Spanyol di kuasai penguasa Kristen[18].

C. Keadaan Umat Muslim Spanyol di bawah pemerintahan Kristen

Pada pertengahan abad empat belas, di Valensia posisi umat muslim semakin memburuk, muslim di bebani kewajiban finansial tambahan. Urusan kemiliteran di bebankan pada budak-budak muslim, sehingga menyebabkan penduduk muslim merdeka jatuh pada kelompok budak. Pada tahun 1311, raja James II melarang pengumandangan panggilan sholat (AZAN), meskipun pada tahun 1357 pengumandangan azan dengan suara tidak keras diperbolehkan dengan pembayaran tertentu.

Pada  akhir abad empat belas, pihak kristen antusias terhadap upaya pengkristenisasi pemeluk Yahudi dan Muslim dan upaya penyerangan agama di Spanyol. Pada tahun 1391 umat Yahudi di paksa menerima Baptisme. Pada tahun 1479 program pemaksaan agama diresmikan, dan orang yahudi di minta memilih di antara Baptisme atau pengusiran.

menandai awal berakhirnya sejarah warga Muslim di Spanyol. Meskipun terdapat perjanjian yang menjamin kebebasan beragama muslim dan harta mereka. Pada tahun 1501 perundangan Spanyol memaksa pihak muslim memilih di antara  berpindah agama atau di keluarkan dari Spanyol. Pada 1556 pakaian arab dan muslim di larang beredar di Granada, dan pada 1566 Philip II mengeluarkan keputusan bahasa arab tidak boleh lagi digunakan. Akhirnya pada tahun 1609 Philip III mengusir umat muslim dari Spanyol. Mereka mengungsi ke Afrika Utara di mana warga Andalusia ini sekali lagi berperan dalam pengembangan peradaban Islam[19].

D. kesimpulan

 

1.Ketika dinasti Bani Umayyah hanya tinggal puing-puing kehancuran, sejarah andalusia memasuki epesode baru dengan tampilnya kepemimpinan MULUK AL-TAWAIF atau TAIFAS yang berarti raja-raja golongan pada 1031. Dari sekitar tiga puluh  raja-raja golongan, yang paling berkuasa dan banyak meninggalkan peradaban adalah Dinasti Murabithun dan Muwahhidun.

2. Dinasti Murabithun dan Muwahhidun berawal dari gerakan dakwah, akan tetapi setelah mereka besar dan banyak pengikut berubah menjadi gerakan politik.

3. Dinasti Murabithun mengalami kemunduran karena pemimpinnya berfikiran Zuhud dan tidak peduli dengan urusan pemerintahan, sehingga timbul pemberontakan dan penyerang dari gerakan baru yaitu Muwahhidun yang berakibat Dinasti Murabithun hancur.

4. Dinasti Muwahhidun mengalami kemunduran karena luasnya wilayah kekuasaan, semantara penduduk sangat majmuk yang terdiri dari bangsa Barbar yang terkenal dengan sikapnya yang keras dan bengis. Dan dinasti ini hancur sebab banyak pemberontakan dan serangan dari Kristen.

5.Setelah pemerintahan islam di Spanyol runtuh dan pindah pada pemerintahan Kristen, umat Muslim di Spanyol banyak mengalami tekanan,  bahkan di usir dari Spanyol bila tidak masuk kristen.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Choirul Rofiq, sejarah Peradaban Islam ( Dari Masa Klasik Hingga Modern),(Ponorogo:STAIN Ponorogo Press,2009)

Moh.Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam (Malang:universitas Muhammadiyah Malang,2004)

Ira M.Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1999)

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2003)

Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta:AMZAH, 2009)

Syalabi  A, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3 ( Jakarta:PT.Pustaka Al-Husna Baru,2003)

Nurchasanah, Thariq bin Ziyad: Sang pembebas Andalusia(Bandung: PTS Fortuna,ttp)


[1] Cordova adalah ibu kota spanyol sebelum  islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa muslim kota ini dibangun dan diperindah.

[2] Menurut Dr.Badri Yatim MA, MULUK AL-TAWAIF atau negara-nagara kecil yang diperintah oleh  raja-raja golongan berjumlah lebih dari tiga puluh negara yang berpusat di suatu kota seperti, Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya.

[3] Ahmad Choirul Rofiq, sejarah Peradaban Islam ( Dari Masa Klasik Hingga Modern),(Ponorogo:STAIN Ponorogo Press,2009), 183-184.

[4] Ulama’ besar bermadzhab maliki dari maroko Utara, yang ditugaskan oleh Abu Amran al-Fasi untuk mendakwahkan agama  suku Berber, Sanhaja, dan  Maroko selatan.

[5] Istilah Murabithun diambil dari kata Ribath yang berarti tempat peribadatan dan pengajian.

[6] Ahmad Choirul Rofiq, 198

[7] Marakisy adalah sebuah ibu kota di Afrika Utara .

[8] Moh.Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam (Malang:universitas Muhammadiyah Malang,2004), 112

[9] Ahmad Choirul Rofiq,198

[10] Sevilla dibangun pada masa pemerintahan Al-Muwahidun, pernah menjadi ibu kota indah bersejarah yang semula rawa-rawa. Kota ini berada dalam kekuasaan islam sekitar 500 tahun. Ada bangunan masjid yang dibangun tahun 1171 pada masa sultan Yusuf Abu Ya’kub, yang sekarang menjadi gereja santa maria dela sede.

[11] Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat islam di Spanyol. Posisi cordova diambil alih oleh Granada pada masa akhir pemerintahan islam.

[12] Toledo merupakan kota penting di eropa sebalum islam, Romawi menguasai kota ini dan di jadikan ibu kota kerajaan. Ketika Tariq ibn Ziad menguasai Toledo pada 712 M, Toledo di jadikan pusat kegiatan islam. Toledo jatuh dari islam direbut oleh Raja Al-Fonso VI dari Castilia, beberapa masjid peninggalan kini dijadikan Gereja.

[13] Ahmad Choirul Rofiq, 202

[14] Moh.Nurhakim, 112-113

[15] Ahmad Choirul Rofiq, 205

[16] Moh.Nurhakim, 114-115

[17] Ibid, 116

[18] Ahmad Choirul Rofiq, 208

[19] Ira M.Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1999), 598-599

Tinggalkan komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s